SEKOLAH TEMBOK CINA

Angin malam bertiup lembut. Menyelisik
sela-sela lubang jendela. Malam beranjak datang. Rumah megah itu akhirnya
lengang, setelah tadi terdengar riuh oleh hardikan-hardilkan. Hanya suara
burung hantu dari kejauhan, ditingkahi derik jangkrik bernyanyi mengiringi
bentakan tajam bernada tinggi mengharukan.
“Lalu aku harus bagaimana, Mas ?”
tanya sang istri dengan suara melemah terisak air mata kepedihan.
“Aku malu pada rekan kerjaku! Setiap
mereka mampir ke sini dan melihat penampilanmu, mereka menganggapmu bagai
seorang pembantu!”
“Apa itu salahku, Mas?”
“Jelas salahmu! penampilan seadanya,
tidak pernah bergaul. Kamu ini istri seorang bos, Rima!”
Rima hanya bisa menelan ludah getir
atas semua perkataan suaminya. Yang ada di pikirannya hanya image di mata rekan kerjanya.Tanpa
memikirkan perasaan dan hati kecil perempuan yang dinikahinya 4 tahun silam
itu. Dugem hingga menjelang fajar di tempat hiburan, menghabiskan waktu di
mall-mall, arisan di sana sini. Mungkin itulah yang diinginkan suami Rima untuk
dirinya. Bergaul seperti istri rekan kerjanya yang lain. Tak seperti Rima yang
kerjanya hanya mendatangi pengajian, ke pasar sekedar memenuhi kebutuhan, tanpa
mempedulikan dunia hiburan di luar sana. Dianggap suami Rima terlalu kuper dan
tidak mengimbangi jabatannya sebagai kepala perusahaan.
Matahari merangkak naik. Pertanda pagi
pun mulai tiba. Sinar surya yang semakin memanas, membuat Rima pagi itu
bergegas membangunkan suaminya yang masih membolak-balik selimut di atas
ranjang.
“Mas, ayo bangun. Sudah pagi.” Suara
Rima pelan membangunkan suaminya.
“Iya.”
“Aku sudah siapkan air hangatnya.”
“iya-iya! banyak omong kamu!” jawab
Hendra yang tak lain adalah suami Rima dengan nada menyeru.
Rima dengan ikhlas membantu
mempersiapkan suaminya untuk berangkat bekerja. Mengabdikan dirinya untuk
menjadi istri yang berbakti pada suami. Walau lecehan dan cacian ia terima hampir
setiap hari.
“Aku nanti pulang telat.” Hendra
berbicara sangat singkat tanpa basa basi.
“Ada apa memangnya, Mas?”
“Sudahlah jangan banyak tanya!”
“Aku kan hanya ingin memastikan.”
“Pokoknya aku pulang telat! ngerti nggak sih?”
“iya…..iya Mas aku ngerti.” jawab Rima
dengan bibir gemetar dan keringat bercucuran.
“Jaga rumah baik-baik, Rima”
“Iya, Mas. Pasti.”
“Bisamu kan hanya itu. Kuper!”
sahut Hendra dengan sindiran tajam menusuk hati Rima.
“Astaghfirullahaladzim….” Kata Rima
dalam hati. Lebih memperkokoh benteng ketabahannya.
Kerudung Rima yang menutupi rapat
kepalanya, memancarkan aura kecantikan tersendiri yang tak disadari Hendra.
Sangat berhati-hati dalam memilih pergaulan dan berbakti penuh pada suami.
Entah bagaimana Hendra tega mendzalimi wanita sholehah itu.
Desis keramaian malam mulai surut di sekitar
pemukiman elite tempat
tinggal Rima dan suaminya. Semakin sunyi dan sunyi. Jarum jam berputar tak
pernah lepas dari tatapan Rima. Malam semakin larut dirasa, namun Hendra tak
kunjung pulang. Meski ia tahu Hendra pulang telat, tapi perasaannya berkata
lain. Tiba-tiba…….
“Jedyarrr…..!” suara pintu terbuka
keras.
“Astaghfirullah, Mas kenapa?” Rima
mendekati Hendra yang baru pulang tengah malam.
“Aahhhh.. minggir-minggir! Pergi sana!
Aku mau tidur!”
“Kamu darimana, Mas? Bukankah jam
kerja sedang tidak lembur? Masak telat sampai selarut ini?”
“ Ppakk !!!” Sebuah tamparan berlabuh
di pipi halus Rima.
“Jangan banyak tanya kamu, Rima!
Jangan sok tahu!” bentak Hendra.
“Aku memperhatikanmu, Mas. Tapi
mengapa ini yang kamu lakukan padaku? Aku istrimu. Sadar, Mas.”
“Kamu yang memulai terlebih dahulu,
Rima! Aku muak dengan tingkahmu.” Bentak Hendra lebih keras dan melangkahkan
kaki enyah dari hadapan Rima.
Hadiah pahit Rima terima lagi malam itu.
Luluhan air matanya pun tak digubris barang sedikit oleh Hendra. Sungguh ironi
yang menyedihkan. Di tengah malam yang sunyi dan kelabu bagi seorang perempuan
seperti Rima itu, konflik dengan suaminya tak lantas membuatnya larut dalam kepedihan.
Setelah ia mengambil air wudhu, dengan mantap ia mampirkan tangannya untuk
membuka sebuah Al-Qur’an yang tergeletak di atas meja ruang tamu utama. Rima
mulai membukanya.
“Bismillahirrahmanirrahim…” suara Rima
berhenti sejenak menghela nafas.
Rima
melantunkan ayat-ayat suci kitab Allah itu dengan syahdunya. Entah mengapa
hatinya damai setelah membaca Al-Qur’an. Dan tak heran. Rima begitu kuat
menghadapi segala rintang yang menghiasi perjalanan hidupnya.
Hari pun berganti hari. Kelakuan Hendra
semakin menjadi. Pulang selalu tak tepat waktu, hingga bahkan sampai minggu
ke-2 atau ke-3. Hati kecil Rima bertanya, harus sampai kapan beban derita ini
hinggap dan tak henti-henti menusuk batinnya. Rima berusaha mengorek informasi
tentang suaminya. Muncul di pikirannya untuk mengikuti suaminya saat berangkat
kerja. Ia terpaksa berbuat seperti ini, walau ia tahu caranya ini salah. Namun demi
suami yang sangat ia cintai, Rima rela berbuat
seperti itu dan ia akan siap dengan segala resiko yang nantinya datang.
“Mas Hendra, hari ini lembur lagi?”
tanya Rima pada Hendra saat ia tengah sibuk menata dasi di lehernya.
“Bukan urusanmu !” jawab Hendra sewot.
“Biar aku bantu membenahi dasinya,
Mas” rayu Rima.
“Ahh.. tidak usah! aku mau berangkat,
takut telat! Awas!”
Hendra mendorong Rima dan berlalu
meninggalkannya. Jarak beberapa meter Hendra meninggalkan rumah, Rima segera
melancarkan aksinya dengan mengendarai taksi yang telah disewa sebelumnya. Ia
sangat berhati-hati memata-matai suaminya. Ia tak pernah kehilangan arah.
Pandangannya tak pernah lepas dari grand livina silver yang dikendarai
suaminya. Tak disangka, mobil itu berhenti tepat di sebuah hotel di kawasan
Kemang yang relatif jauh dari kantor Hendra. Tanda tanya besar
menyeruak dalam pikiran Rima. Sebelumnya, ia tak pernah tahu bisnis suaminya
sampai ke hotel. Tapi kali ini, matanya benar-benar menyaksikan suaminya
berdusta padanya.
Hendra semakin jauh masuk ke dalam
hotel. Berjalan dengan langkah tergesa menuju kamar 126A yang mungkin telah
dibooking sebelumnya. Dengan cekatan Rima membuntuti langkah suaminya.
“Cekrikk..” Hendra membuka pintu kamar
hotel. Rima mengintip dari dekat kusen pintu sedikit menjongkok agar mata
suaminya tak melihat keberadaannya. Namun…
“Malam, Sayang.” suara
Hendra lembut menyapa seorang wanita setengah dewasa membaringkan badan di atas
ranjang dengan wajah agak muram.
“Lama sekali Mas, datangnya. Aku bosan
tahu nggak?!” jawab gadis itu ketus.
“Maaf. Mas tadi di jalan kena macet.”
“Sekarang aku maunya sama kamu, Mas. Jangan
pergi kemana-kemana.”
“Pasti, Sayangku” kata Hendra lembut
sembari mendekat kepada wanita tersebut.
Rima tak bisa tolak dentuman dalam
hatinya yang berdegub kencang bagai genderang. Air matanya runtuh diiringi
isakan yang menyempitkan rongga dada. Darahnya mulai naik dan semakin naik
mencapai titik didih. Tak membuang-buang waktu, kaki Rima membawanya masuk ke
dalam kamar hotel yang kebetulan tak tertutup rapat.
“Mas Hendra! Apa yang kamu lakukan
disini, Mas?” tanya Rima secara tiba-tiba ke arah dua sejoli yang tak bermuhrim
itu.
“Rima? Ka .. ka .. kamu kok ..”
jawaban Hendra gugup dan terputus.
“Astaghfirullah, Mas. Tega kamu
padaku! Aku mencoba sabar dengan tingkah kasarmu selama ini. Apa itu tak cukup?
Hingga membuatmu sejauh ini menyakitiku. Siapa perempuan ini ?”
“Bagus kalau kamu sudah tahu,
setidaknya perempuan ini bisa memberikan keturunan dan tentunya lebih baik
darimu!” jawab Hendra dengan yakin tanpa kepanikan sedikitpun.
“Ternyata itu yang membuatmu benci
padaku, Mas. Aku tak menyangka kau sekejam itu.”
“Memang. Lalu apa yang akan kau lakukan?
Dengan seperti ini apa kamu bisa memberiku keturunan?”
“Begini saja, Mas. Sekarang, Mas Hendra
pilih aku atau perempuan itu?”
“Kalau aku pilih dia, lantas kamu
mau apa?”
“Tega kamu, Mas! Kamu anggap aku
selama ini apa? Kesabaranku, ketabahanku, pengabdianku padamu kau anggap
sia-sia begitu saja? Sudah cukup hatiku merasakan getir karena tingkahmu!
Terserah kamu, Mas! Terserah!” Rima pun
berlalu dengan emosi penuh dan membanting pintu dengan tenaga penuh, beda dari
biasanya.
Hendra tak menggubris kemarahan
istrinya. Ia menganggap angin lalu dan pasti tidak akan berbuntut panjang.
Namun, pikiran itu melenceng. Saat ia sampai di rumah, tak ada sambutan hangat
Rima yang biasanya pasti mampir padanya sepulang dari bekerja. Sunyi dan tak
ada suara. Berbagai sudut ia singgahi, namun keberadaan sang istri tak ditemui.
Sehari berlalu Hendra cuek saja. Dua
hari berlalu ia tetap tidak mempedulikan. Hingga menginjak bulan pertama
perginya Rima, ia mulai resah. Tak kepeduliannya seakan luntur dimakan waktu
setelah kepergian Rima. Hendra mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh
mengelilingi kota Jakarta. Mencari dan
terus mencari keberadaan Rima. Saat matanya memburu di setiap sisi tiba-tiba
tatapannya tertuju ke seorang wanita penjual asongan berkerudung violet sedikit
kumel dan berdebu sedang menjajakan dagangannya di lampu merah yang ternyata adalah Rima.
“Rimaaa..!” teriak Hendra dari
kejauhan setelah memberhentikan mobilnya di tepi Jl.Diponegoro kawasan
Tangerang.
Hendra
mempercepat langkahnya menyebarangi jalan raya dengan
kebisingan kendaraan
dan menuju lampu merah. Namun yang terjadi…
“Jedyyaaakkkk!”
Lengang.
Sunyi tanpa suara. Hendra membuka matanya perlahan. Dan menyadari dirinya tengah terbaring di ranjang ruangan putih penuh alat
dokter. Di Rumah Sakit.
“Rima?” suara Hendra lemah setelah
sadar dari pingsannya sambil menyipitkan matanya memastikan apakah benar wanita
yang ada di hadapannya adalah Rima.
“Iya, Mas. Ini aku. Istrimu.” Jawab wanita
itu yang ternyata benar Rima.
“Rima… kamu kemana saja? Aku
mencarimu.”
“Mas Hendra tenang saja. Sekarang aku
ada di sini. Lebih baik sekarang kamu istirahat saja, Mas. Aku tak mau terjadi
hal buruk padamu setelah kejadian tabrakan tadi.” Jawab Rima sembari membelai
rambut Hendra pertanda kecemasan yang kuat sedang dirasakannya.
“Maafkan semua kesalahanku selama ini, Rima. Aku khilaf. Aku sangat
menyesalinya.”
“Apa, Mas?” sahut Rima dengan mata
terbelalak dan tak percaya.
“Aku ingin menjadi suami yang lebih
baik lagi bagimu.”
Kata-kata
Hendra sungguh menyegarkan hati Rima yang gersang saat itu. Matanya berbinar.
Tangannya meraih tangan Hendra yang lemah bertahtakan infus dan alat Rumah
Sakit lainnya.
“Iya, Mas. Aku menerima maafmu.
Alhamdulillah sekarang kamu sudah kembali seperti Mas Hendra yang kukenal 4
tahun yang lalu.”
Rima
terlihat begitu senang. Spontanitas ia memeberikan pelukan hangat pada suaminya
dengan erat dengan senyuman manis yang tak kunjung usai.
“Tapi Rima…” suara Hendra menghentikan
senyuman Rima.
“Tapi apa, Mas?” tanya Rima penasaran.
“Aku tidak bisa mengelak kalau aku
ingin memiliki keturunan. Aku sangat menantikannya. Tapi aku tahu kamu tidak
bisa memberikan itu.”
“Lalu maksud Mas Hendra?”
“Bolehkah aku berpoligami?”
Kata-kata Hendra menghentikan 30 menit
kebahagiaan Rima. Perasaan suka cita yang ia rasakan sebelumnya sirna hanya
dengan pertanyaan Hendra yang mengoyak kalbunya. Di sisi lain ia sangat
menginginkan kebahagiaan kembalinya Hendra hanya berdua. Namun ia sadar kekurangannya
sebagai kaum hawa yang tidak bisa memberikan buah cinta pada suami tercintanya.
Bimbang ia rasakan. Antara ya atau tidak.
Rima
hanya bisa meneteskan deras air matanya dan keluar dari ruang rawat Hendra.
Menyembunyikan perih hatinya sebagai wanita yang tersakiti. Takdirnya
berbahagia dengan sang suami hanya khayalan yang tak kunjung menjadi kenyataan.
Haruskah ia hidup dengan Hendra dengan segala kegetiran menyaksikan suaminya
memiliki buah hati dengan wanita lain? Ataukah melarang Hendra berpoligami dan
memusnahkan mimpinya memiliki buah hati?
Hanya Tuhan yang tahu nasib Rima selanjutnya.
Kapan kebahagiaan wanita sholehah ini akan menjemput. Kapan Cinta putihnya akan
disambut. Hanya menabahan hati yang dapat ia lakukan. Ketabahan hati yang kokoh.
Sekokoh Tembok Cina.
0 Response to "Cerpen Sekolah Tembok Cina"
Posting Komentar