Latest Updates

Cerpen Permintaan Hati


PERMINTAAN HATI


Setahun yang lalu, awal ku bertemu Rizal.Seorang pria yang mencuri hatiku.Bermula dari sebuah persahabatan yang erat dan tanpa ku sadari tumbuh benih rasa sayang di hatiku.Ku coba tepis rasa itu, namun aku tak mampu.Setiap ku jumpa dengannya, rasa yang berbeda menghampiriku.Tak tahu dari mana asal rasa itu, tetapi yang pasti ku rasakan.
Jantungku berdetak saat engkau ada didekatku

Mungkinkah diriku telah jatuh cinta pada diriku

Sebisa diriku mencoba untuk melupakanmu

Namun ku tak bisa kau pun slalu ada dalam hatiku

Mungkin itulah yang ku rasakan.

Tanpa ku tahu, seorang teman dekatku menaruh rasa terhadapnya. Dan ia sering bercerita kepadaku, yang membuat hatiku meradang.

“Nez, aku mau curhat nih sama kamu.”

“Curhat apa?Tentang cowok ya?”

“Emm, gitu juga bisa.”

“Emang siapa orangnya?”

“Itu si Rizal sahabatmu. Jujur aku naksir sama dia. Nah, lewat kamu aku pengen lebih deket sama Rizal. Kamu mau kan bantu aku?”

DEG… Suara itu seperti petir yang menyambar hatiku. Di salah satu sisi aku harus membantu Zeetha, tetapi di sisi lain aku tidak sanggup memberikan Rizal untuk orang lain. Aku dilema.

“Nez, Neztha. Kamu kok ngelamun sih?”

“Oh enggak Zeet. Aku sih mau bantu, tapi ya tinggal si Rizalnya aja. Hati kan enggak bisa dipaksakan.”

“Iya juga sih.Tapi tolong usahain ya, Nez.”

“Iya deh.”

Bel selesai istirahat berbunyi, kini aku segera masuk kelas.Namun aku tidak bisa konsentrasi ke pelajaran karena selalu teringat perkataan Zeetha.Aku tidak bisa membayangkan betapa hancurnya hatiku ketika melihat Rizal dan Zeetha bersatu.Tiba-tiba Zeetha membuyarkan lamunanku.

“Hey, ngelamunin apa sih?”

“Ah, enggak kok Zeet.”

“Oh. Eh ya, ntar pulang bareng kamu ya, biar aku bisa ketemu Rizal.”

“Emm, iya.”

Bel pun berbunyi.Siswa satu persatu meninggalkan kelas.Tetapi aku masih tidak beranjak dari bangku.Seperti biasa, Rizallah yang menghampiriku untuk pulang bersama.Kini aku dan Rizal tidak pulang berdua karena Zeetha ingin ikut.Di perjalanan, aku merasa jenuh dengan kegenitan Zeetha terhadap Rizal.

“Aa’, hari ini teh aku seneng banget.Soalnya bisa jalan bareng Aa’ trus juga bisa megang tangannya Aa’.Duh, hari ini seneng banget, A’.”

“Emm, biasa aja deh enggak usah lebai kayak gitu.Dan satu lagi, tolong jangan pegang-pegang tanganku.Aku risih.”

“Iih Aa’. Naon teh?”

“Aku risih, Zeetha.Aku enggak terbiasa gitu, maaf kalau nyinggung perasaanmu.”

“Ooo.”

Sesampai di rumah, aku langsung menuju kamar tidur.Disana aku terus membayangkan kejadian demi kejadian yang Zeetha lakukan kepada Rizal.Sampai tidak ku sadari, handphoneku berdering dan aku segera mengangkatnya.

“Hallo, ini siapa ya?”

“Hallo juga, Nez. Ini Rizal.”

“Ooo kamu, Zal. Tumben kamu telepon, emangnya ada apa ?”

“Ah enggak apa-apa kok, Nez.Aku cuma pengen cerita sama kamu.”

“Cerita apa?”

“Tentang Zeetha.”

“Emm, kamu suka sama dia?”

“Enggak mungkinlah, Nez.Zeetha itu bukan tipeku.Aku malah risih kalau deket-deket sama dia, soalnya dia sok kenal dan sok deket gitu.”

“Ooo. Dia gitu karena suka sama kamu, Zal. Dia pernah cerita ke aku.”

“Masak?”

“He’em. Dan dia juga minta bantuanku supaya bisa deket sama kamu.”

“Lebih baik jangan bantu, Nez. Aku enggak mau. Kamu kan sahabatku, jadi jangan biarin aku sama Zeetha.”

“Emm, kalau itu maumu, aku turutin deh.”

“Makasih ya, Nez.Kamu emang sahabatku yang paling baik.”

“Sama-sama, Zal. Udah dulu ya, aku mau istirahat nih. Bye.”

“Iya deh. Bye juga.”

Siang pun berganti malam.Setelah selesai belajar, aku kembali teringat percakapanku dengan Rizal.Dari itu aku tahu bahwa Rizal tidak menyukai Zeetha.Itu berarti ada secuil harapan untukku.Namun apakah Rizal juga menyukaiku?Hanya Rizal dan Tuhanlah yang tahu.

*******
Waktu pun berjalan.Sampai pada akhirnya Zeetha berani mengungkapkan perasaannya kepada Rizal.Dan tanpa ku duga, Rizal menerimanya.Hatiku hancur berkeping-keping.

“Hai, Zal.”

“Hai juga. Ada apa, Zeet?”

“Aku pengen bicara empat mata sama kamu.Boleh enggak?”

“Boleh.”

“Tapi ngomongnya jangan disini ya. Disitu aja yuk.”

“Iya.”

“Gini, Zal. Sebenarnya aku udah lama suka sama kamu.”

“Terus?”

“Kamu mau enggak jadi pacarku?”

“Emm, gimana ya?Tapi kamu mau janji kalau jadi pacarku jangan genit-genit?”

“Iya deh, Zal.Aku janji.”

“Ya udah aku janji.”

Setelah Rizal dan Zeetha berpacaran, persahabatanku dengan Rizal sedikit terganggu.Mungkin cinta telah merubah segalanya.Kini hanya aku sendiri, tiada sahabat lagi.Merenungi nasib kehilangan sahabat dan cinta.

Untuk menghilangkan rasa sedihku, aku putuskan untuk mencari hiburan dengan jalan-jalan bersama mamaku.Sampai di pusat perbelanjaan, aku langsung menuju ke sebuah butik dimana butik tersebut langganan mamaku. Tanpa sengaja, aku melihat Zeetha berjalan berdua dengan seorang lelaki yang ku tahu bukan Rizal melainkan Angga.Tetapi, aku berpikir bahwa mereka hanya berteman.

Hingga ketiga kalinya aku memergoki Zeetha dan Angga bermesraan di tempat-tempat umum seperti di mall-mall.Kini aku sangat yakin bahwa ada sesuatu diantara mereka.Hal tersebut ingin aku sampaikan kepada Rizal dengan berkeyakinan Rizal mau mendengarkanku.

“Zal, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan.”

“Apa, Nez?”

“Kamu boleh percaya boleh enggak.Zeetha selingkuh, Zal.”

“Selingkuh?Kamu jangan asal ngomong, Nez!”

“Bener, Zal. Aku enggak bohong. Aku kemarin liat sendiri Zeetha jalan sama Angga di mall.”

“Maaf, Nez. Aku belum bisa percaya kalau aku belum liat sendiri, meskipun kamu sahabatku.”

“Ya udah, kalau gitu besok kamu ikut aku.Aku bakal tunjukkin ke kamu.”

“Oke.”

*******
Keesokan harinya, aku dan Rizal pergi ke mall. Sampai dua jam kami menunggu sembari berkeliling. Dan akhirnya, Zeetha lewat bersama Angga sambil berpegangan tangan.Rizal pun terlihat marah dan ingin segera melabrak Zeetha.Puncaknya, Rizal memutuskan Zeetha.

“Zeetha!”

“Rizal?”

“Ternyata kamu pengkhianat.Udah berani-berani selingkuh padahal kita baru seminggu.Mulai sekarang kita putus.”

“Rizal, jangan ngomong gitu.Aku sama Angga cuma temen.”

“Udah, jangan dekati aku lagi.Kamu perempuan picik.”

“Rizal…… Rizal……”

Rizal pun berlalu sampai suara Zeetha tak terdengar lagi.Lalu Rizal menyadari bahwa persahabatan lebih berharga dibanding seorang pacar.Kini aku dan Rizal kembali menjadi sahabat seperti sedia kala.

*******
Hari-hari ku lalui dengan suka cita bersama Rizal.Sampai suatu hari, Rizal menaruh rasa terhadapku.Itu semata disebabkan karena kedekatan kami.Aku mengetahuinya karena sikap Rizal berubah kepadaku yakni menjadi lebih perhatian.Dia juga sering main ke rumah, selalu menanyakan keadaanku, yah bisa dibilang kami dalam masa pendekatan.

Setelah satu bulan kami mengenal diri masing-masing, akhirnya Rizal berani untuk menyatakan cinta kepadaku walaupun hanya lewat sms. Saat itu hatiku sangat berbunga-bunga, andai saja kalau ia menembakku secara langsung. Meskipun demikian, aku tetap mengacungi jempol untuknya.Tetapi aku meminta waktu untuk menimbang-nimbang tawarannya itu.

Tiga hari berlalu.Kini saatnya memberi jawaban kepada Rizal.Aku masih bingung dengan keputusanku.Aku ingin menerimanya, tapi bagaimana dengan persahabatanku?Jika aku menolak, maka tidak ada lagi harapan untukku.Akhirnya ku temui Rizal dan memberi jawaban untuknya.

“Punten.”

“Mangga’.”

“Zal, aku mau ngomong sama kamu.”

“Iya, Nez. Mau ngomong apa?”

“Tentang kita.”

“Oh iya, gimana menurutmu?”

“Sebenarnya aku juga suka sama kamu.Tapi aku punya satu permintaan.”

“Apa, Nez?”

“Aku mau, kalau kita pacaran kayak sahabatan.”

“Maksudmu?”

“Gini, kita kan awalnya sahabat.Nah, walaupun kita pacaran, kita masih tetap kayak sahabat.Kumahak tah?”

“Ya udah aku mau.Jadi, mulai sekarang kita pacaran?”

“Iya.”

Waktu begitu cepat berlalu. Hingga tak terasa aku dan Rizal menginjak usia pacaran tiga bulan. Sementara itu, sebentar lagi kami akan menerima hasil belajar di kelas 11. Hatiku deg-degan.Aku tak bisa membayangkan jika nilai raporku jelek, tapi aku harus tetap optimis.

*******
Classmeeting pun mulai berjalan.Setiap waktu di sekolah aku habiskan untuk melihat pertandingan-pertandingan yang ada, terutama futsal.Karena Rizal adalah seorang pemain futsal yang menurutku cukup handal, maka wajib bagiku untuk meluangkan sedikit waktu.Kini tiba saatnya Rizal bertanding.Aku berdiri di samping pintu lapangan sambil memandangi Rizal.Rizal begitu semangat bersama keempat temannya, Mario, Samuel, Raihan, dan Moses.Sampai akhirnya Rizal berhasil memasukkan bola ke gawang.Sorak sorai pun terdengar meriah untuk Rizal.Begitu juga denganku yang gembira melihat kejadian itu.Hingga akhir pertandingan, skor pun tetap 1-0.

Selesai pertandingan, aku menemui Rizal dan memberikan sebotol minum untuknya.Ia pun segera meminumnya karena ia terlihat haus dan capek. Setelah itu, aku berbincang-bincang sebentar dengannya.

“Zal, tadi kamu keren banget lho mainnya.”

“Makasih, Nez.”

“Kamu capek banget ya?”

“Iya nih.”

“Kalau gitu istirahat dulu aja.Ntar kan kamu main lagi.”

“Iya, Nez. Makasih buat perhatiannya.Tapi, aku tadi diminta Pak Joseph buat jadi wasit.Enaknya aku terima enggak?”

“Kalau menurut aku, mending kamu istirahat dulu.Pasti Pak Joseph ngerti, Zal.”

“Tapi Nez, aku udah janji sama dia.”

“Ya kamu bisa kan bilang sama dia kalau kamu capek. Toh, kamu juga capek beneran.”

“Iya sih.Tapi aku enggak pernah sekalipun membatalkan janjiku sendiri.”

“Ya sudah, terserah kamu aja deh.Apa yang baik buat kamu, aku pasti dukung.”

“Iya, Nez. Aku ke lapangan dulu ya, mau ikut?”

“Enggak deh.”

Rizal pun kembali menuju lapangan dan aku hanya termenung sendiri. Aku sedikit kecewa pada Rizal karena ia lebih memilih futsal daripada dirinya sendiri. Tetapi, di sisi lain aku sangat bangga dengannya karena ia bertanggung jawab dan bertindak profesional. Ah, beginilah rasanya menjadi pacar seorang pemain futsal. Tiba-tiba Raihan mendatangiku.

“Hey, ngelamuninapa sih, neng?”

“Ah, enggak kok, Ray.”

“Hayo, pasti lagi ngelamunin Rizal.”

“Hehe, kok tahu sih?”

“Ya tahu lah.”

“Iya nih aku lagi bete sama dia.”

“Bete kenapa sih, neng?”

“Itu dia selalu ngutamain futsal daripada dirinya sendiri.”

“Ah biasa.Rizal kan emang gitu orangnya.”

“Iya sih. Tapi aku kasihan sama dia. Dia tadi kan capek abis tanding, masak sekarang harus bantu Pak Joseph jadi wasit.”

“Wajarlah.Dia cuma pengen jadi anak kesayangannya Pak Joseph.”

“Masak?”

“Iya.Dulu waktu masuk NG team, dia tu sok baik gitu.Padahal sebenarnya dia tu nakal banget. Dikit-dikit ganggu aku sama Samuel, kadang-kadang dia juga baik sama aku tapi cuma kalau ada Pak Joseph.”

“O, gitu ya.”

“He’em, Nez. Kalau menurutku ya, dia tu pengen kayak aku yang selalu dipuji-puji Pak Joseph, hehe. Lagipula kamu tu enggak pantes sama Rizal. Kamu tu cantik plus baik, sedangkan Rizal nakal banget.Mending sama aku aja, hehe.”

“Iya sih, Rizal emang gitu.Tapi yang bagian terakhir, jangan dulu deh.”

“Iya.Ya udah ya, aku ke lapangan dulu. Good luck ya, Nez.”

“Oke.”

*******
Raihan pun berlari menuju lapangan, aku sendirian lagi.Disaat aku duduk, tiba-tiba Rizal datang dengan wajah geram.Akupun bertanya dalam hati.Apakah yang terjadi? Setelah beberapa menit berdiri, akhirnya ia duduk disampingku. Tetapi Rizal tidak mengucapkan sepatah kata pun, dan itu yang membuatku bingung. Ingin sekali ku bertanya, tetapi ada keraguan dalam hatiku.Apa yang telah ku perbuat hingga membuat Rizal seperti ini?

“Nez.”

“Iya, Zal.”

“Kamu enggak nyadar?”

“Naon, Zal? Aku enggak ngerti.”

“Ya udah, enggak usah dipikir.Nanti juga bakal ngerti.”

“Apa sih, Zal?Jangan buat aku bingung dong.Kalau aku ada salah, aku minta maaf ya.”

“Enggak perlu, Nez.Aku cuma pengen kamu nyadar aja.”

“Nyadar apa sih, Zal?”

“Kamu tanya aja sama Samuel.”

“Mana dia?”

“Tuh ada di ruang ganti.Samperin sana.”

Kemudian aku menemui Samuel di ruang ganti.Dan aku menanyakan hal yang membuat Rizal bersikap dingin terhadapku. Lalu ia menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Ternyata Rizal cemburu melihatku dengan Raihan. Kata Samuel, Raihan mempunyai rasa kepadaku. Tetapi setahuku,Raihan sudah mempunyai pacar, yaitu Zeetha.Mungkinkah itu semua benar? Ah, mungkin hanya perasaan saja.

“Zal, aku sekarang tahu kenapa kamu bersikap dingin.”

“Apa?”

“Kamu enggak suka kan kalau aku deket-deket sama Raihan?”

“He’em. Dia tu suka sama kamu, Nez.”

“Iya, aku tahu dari Samuel.Tapi Raihan tu pacarnya Zeetha.”

“Kamu kayak enggak tahu Raihan aja, dia kan playboy. Sama kayak Zeetha yang pemain cinta.”

“O, gitu.”

“Jadi mulai sekarang jangan deket-deket Raihan ya.Nanti kamu bisa dikira ngrebut dia dari Zeetha.”

“Oke deh.”

Setelah kejadian itu, aku dan Rizal mencoba untuk saling percaya satu sama lain. Walaupun aku berjanji untuk tidak mendekati Raihan, tetapi aku tidak dapat memungkiri bahwa Raihan lah yang selama ini aku cari. Aku coba hilangkan perasaan itu, tetapi apa yang ku dapat? Aku terus dan terus terbayang sosok Raihan yang apa adanya. Setelah aku berperang melawan kegundahanku sendiri, aku pun memutuskan untuk mengakhiri hubunganku dengan Rizal karena memang sudah tidak ada kecocokan diantara kami.Dan sepertinya dengan senang hati, Rizal pun ingin berpisah denganku.Dengan begitu, resmilah aku berpisah dengan Rizal.

*******
“Nez, denger-denger kamu putus sama Rizal ya?”

“He’em, Ray. Kamu kok tahu?”

“Yah, Nez. Seluruh sekolah juga tahu kale.Emang gara-gara apa sih, neng?”

“Emm, udah enggak ada kecocokan lagi.Daripada diterusin dan selalu cek cok, mending putus aja, Ray.”

“O, gitu. Tapi kamu jangan sedih ya, kan ada aku disini.”

“Yeee, ntar aku malah dimarahin si Zeetha.”

“Idih, Zeetha? Aku udah putus sama dia atuh, neng. Udah 2 minggu yang lalu.”

“Biasa lah, Zeetha kan playgirl.Selingkuh sana, selingkuh sini.”

“Hehe.”

“Eh Nez, boleh enggak aku minta nomermu?”

“Mau apa?”

“Ya buat tambah-tambah phonebook aja.Enggak boleh ya udah.”

“Boleh kok.Nih 089669014744.”

“Makasih ya.Ntar malem smsan, oke.”

“Oke.”

Hatiku bagai disinari cahaya rembulan. Oh Raihan, engkaulah yang aku cari selama ini. Malam pun tiba. Setelah selesai belajar, terdengar suara dering handphoneku. Disanaterdapat suara yang aku kenal.

“Hallo, geulis.”

“Etatah siapa?”

“Masak enggak kenal sih.”

“Siapa ya?”

“Ini Raihan.”

“O, kamu.”

“Udah malem kok belum tidur, neng?”

“Emm, lagi enggak bisa tidur.”

“O, mau aku temenin.”

“Okelah.”

“Nez, boleh enggak ngomong sama kamu?”

“Ya boleh lah, dari tadi juga kamu ngomong kan.”

“Ini penting, Nez.”

“Apa sih, Ray?”

“Kalau boleh jujur, sebenernya aku suka sama kamu, Nez.Ya bolehlah kamu mikir ini terlalu cepat, tapi aku nggak bisa mendam perasaanku terus menerus.”

“Terus, kamu mau ngomong apa?”

“Emm, kamu mau nggak jadi kekasihku?Yang selalu menemaniku disaat ku sedih maupun senang.”

“Kamu bercanda kan? Mana mungkin kamu suka sama aku, itu mustahil.”

“Aku serius, Nez.Kamu mau nggak?”

“Gimana ya, Ray?Sebenernya ini emang terlalu cepat buatku.Aku sendiri nganggep kamu sebagai temanku, dan kita baru aja deket.”

“Iya sih.Tapi udah lama aku merhatiin kamu dan sekaranglah waktunya buatku ungkap semuanya.”

“Sebenernya ya aku juga ada rasa sama kamu. Tapi apa kata temen-temen kalau kita pacaran?”

“Ya cuek aja lah.Kita ya kita, mereka ya mereka.”

“Ya udah deh, aku mau.Tapi aku minta kita backstreet dari temen-temen dulu.Ntar kalau waktunya udah pas, kita kasih tau temen-temen tentang hubungan kita.”

“Oke, geulis.”

“Iya.”

“Nez, besok kan Minggu, kamu mau nggak nemenin aku buat beli sepatu bola?”

“Aku sih mau aja, tapi jam berapa?”

“Maumu jam berapa?”

“Yah, kok malah balik nanya.”

“Hehe, maaf sayang.”

“Jam sepuluh aja gimana?”

“Oke deh.”

“Jam 09.30 kamu jemput aku ya.”

“Siap boz!”

“Iyah.”

“Kalau gitu kamu tidur aja, biar besok nggak bangun kesiangan.”

“He’em, Ray.“

“Bye, sayang. Have a nice dream.”

“Bye juga.”

Tanggal 15 Juni, tepat hari jadiku dengan Raihan. Saat Raihan menyatakan cinta, berdebar-debar hatiku. Jantung pun berdetak dengan cepat.Tak ku sangka Raihan secepat ini mengungkapkan rasa terhadapku.Hari demi hari ku lalui dengan gembira bersama seseorang yang aku sayangi. Dibalik sikapnya yang apa adanya, ternyata Raihan sosok yang perhatian dan pengertian. Tidak salah aku memilih Raihan sebagai pengganti Rizal.

Setelah 2 bulan berjalan, aku semakin yakin apa yang Rizal katakan bahwa Raihan adalah playboy itu sama sekali tidak benar. Raihan sangat baik dan tidak pernah sekalipun menyakitiku.Berbulan-bulan kami merajut cinta, tidak ku temui satupun gelagat buruk dalam diri Raihan.Walaupun kami berbeda kayakinan, Raihan tetap menghormatiku dan tidak pernah memojokkanku.

Terkadang orang yang tulus mencintaimu tidak selamanya menjadi milikmu tetapi orang yang selalu ada ketika kamu merasa sendiri.

0 Response to "Cerpen Permintaan Hati"

Posting Komentar