Nggak
Semanis Tawamu
devi
Untuk pertama kali ini mereka tidak bergandeng tangan
bertiga lagi, tidak seperti waktu-waktu silam, kemanapun, kapanpun, dan
dimanapun, mereka bertiga sudah seperti tiga badut konyol yang ketiganya sudah
terkena ayan permanen. Meskipun tak separah itu, tapi pada kenyataan di
lapangan juga tampak 3 orang yang gila, kesana kesini nggak ada tujuan.
“Ahh, nggak asiik loo…”, dumel salah satu personil 3
badut konyol tadi dengan menggerutu nggak jelas saat melihat layar hapenya.
“Kenapa?? Nggak jadi kan??”, sahut satunya lagi.
“Kenapa yah,, akhir-akhir ini, Nowa agak aneh gituh…”
“Aneh?? Aneh gimana?”
“Ya aneh aja, diajak jalan nggak mau,, padahal dulu,
dia hobby banget gila-gilaan”.
“Hahah… dia nyelingkuhin kita!!”
“Hmm….,, kalo emang bener dia nyelingkuhin kita,, gue
nggak trima!!”
“Setuju!!!”
“Hahahah…”
“Putus aja,,!!”
“Siiipp bray,,”
----oooOooo----
Sementara itu,
“Hahah, kok putus,”
Duduk manis seorang cewek di atas tempat tidurnya dengan cekikian
membawa sms dari temannya yang udah klop gilanya. Lalu, tangannya menari-nari
di atas keypad
hapenya tanpa pikir panjang.
“Jangan diputus a bebh, sini lho, maen ke rumahku, tak
tunggu!!”
Ting…tong…
‘ngggeeeekkkk…..’
Pintunya terbuka sedikit demi sedikit. Tampak dua seorang cewek yang udah
cengar-cengir nggak jelas sambil menaik turunkan alisnya, persis kayak anak sd
cacingan.
“Silakan ma…,,” tak sempat meneruskan ucapannya, salah
satu personil trio gila nyelonong masuk ke dalam rumah.
“Anggap aja rumah sendiri!! Hahah…” sahutnya tanpa
dosa.
Di ruang tamu,
“Loo mau minum apa?” Tanya Nowa
“Emmh… Gue jus jeruk,, gulanya 2 sendok teh aja, trus jeruknya musti
yang seger,, truss kalo diblender, yang lama, biar alus,, trus tambahin 2 kotak
es, cukup, heheh….” Oceh ina.
“Apa ada yang kurang lagi?” sahut Nowa dengan nada
emosi.
“Wah,, santai bray… wkwk,,”
“Huuh!!! Kalo Inju?”
“Kalo gue, cukup kopi moca cina aja,”
“Ok ok ok…”
“Oh ya mbak,, jangan pake lama ya!!”
“Siip!! Oke!”
2 menit kemudian
“Pesanan datang….” Kata Nowa dengan membawa nampan
yang berisi satu cangkir kecil dan satu lagi gelas berisi jus jeruk serta satu
toples camilan kentang goreng.
“Nah, ini jus jeruk dengan 2 sendok teh gula, jeruk
segar, halus, serta tambahan 2 kotak es. Dan kopi mocacino.” Ucapnya dengan
meletakkannya pada meja.
“Siiip… like this!!” celoteh Inju.
“By the way,, kenapa elo mutusin gue?”
“Eloo-nya nggak asik!! Nggak mau jalan bareng kita,,
ya nggak Nju?”
“He-em,, loo pasti lagi selingkuh kan?”
“Hahahah… gilak loo semua!!”
“Gue kan jomblo 100%,, always with you bebh!! Wkwk”
tambahnya
“Haa… jangan bohong luu!!”
“Iya,, loo pasti bohong kan?? Siapa sih bebebh loo
yang new itu,, Arial taruh dimana?”
“Iiih… sumpah!! Nggak ada! Sekarang udah ga tau kabar
si ‘kapur tulis sd’ itu,,”
“Laa trus?”
“Trus?? Truss gimana?”
“Trus, kenapa loo tadi nggak mau join sama kita?”
sambung Inju.
“Itu karena badan gue capek tauk!!,, seharian
kemarin,, panas-panasan,,, haddooh,, betapa menderitanya gue!”
“Haa,, pasti jam-nya pak gatok kan?”
“Ya,, Enzackly!! lari 12 menit!!”
“Hahahah… DL!! Derita Loo!! Wkkwk!” sahut Ino dan Inju
bersamaan.
“???!! Emosi gue!!”
“Plissstt mbak bro”
“Just kidding kok,, hkhkhk”
Trio gila ini semakin tambah gila dari waktu ke waktu, nongkrong nggak
jelas, ngobrolin apa aja yang bisa diobrolin ato hanya dengerin music yang
pastinya juga nggak jelas.
Keunikan tiga cewek ini hanya pada mereka tidak mau
ada rahasia ato apalah namanya yang saling disembunyikan. Ato menkritik di
belakang orang, itulah satu-satunya hal yang sangat mereka benci.
“Lebih baik, omongin aja semua apa yang ada di hati
loo dihadapan dia, orang yang loo omongin. Daripada jadi salah paham, dan nggak
ada ujungnya. Cuma buat nabung dosa aja,, toh, apa salahnya kalo langsung aja
bilang,, biar nggak jadi konflik. Kita benci omongin orang di belakang!!” Ucap
Nowa suatu waktu.
Blak-blakan dan apa adanya, menjadi prioritas utama
kelompok gila ini. Dan inilah yang membuat mereka tetep akur, sejak sd, smp dan
sampai sekarang.
Sebelumnya, jumlah kelompok gila ini berjumlah 5 orang,
Nowa, Ino, Inju, Arial, dan Ian. Dulu mereka sangat akrab dan bahkan seperti
saudara. Namun, sejak lulus smp, Ian dan Arial,, dua cowok ini pindah ke
Denmark. Tempat dimana mereka akan hidup setelah itu, Arial, cowok yang satu
ini punya postur gepeng dan gitu-gitu aja,, julukan kecilnya yang cocok banget
sama dia yaitu ‘kapur tulis sd’. Mungkin dalam postur mini Arial, pasti sama
persis kayak kapur tulis sd. Arial suka banget novelnya Dhony Dirgantoro,
perjuangan tentang persahabatan dan kehidupan.
Ian, cowok yang punya postur tubuh bulet ini juga
nggak kalah lucu. Pipinya chubi dan suka berargumen tentang hal-hal yang nggak
penting. Nggak penting banget malahan.
“Hembb… kira-kira siapa ya yang tau, gimana bentuknya
kotoran semut?”
“Garing,”
“Garing,,,”
“Garing…”
“Garing!!”
Garing banget dan nggak pernah nyambung. Dan kadang juga bikin risih
karena celotehnya yang nggak pernah bener. Tapi sisi lain Ian punya hati yang
lembek, yang nggak tahan liat air mata temennya menetes, dia selalu jadi bantal
yang nyaman buat siapa aja yang lagi sedih. Semua perbedaan nggak membuat
mereka terpecah, dan justru dari berbedaan itu, mereka saling melengkapi. Makna
dari kata sahabat dan apa arti perjuangan kehidupan telah mereka alami, 2 tahun
silam, mereka berjuang di dalam dekapan maut dan dinginnya dunia untuk mendaki
satu tujuan.
Menghargai betapa bahagianya mereka hidup tanpa
kekurangan apapun. Satu bukti nyata Tuhan bahwa Dia itu memang ada. Meskipun
denting-denting waktu terus berjalan.
---oooOooo---
Malam ini turun hujan, menambah suasana menjadi beku.
Di balik jendela kamar tampak sosok cewek yang termenung di atas tempat
tidurnya dengan melipat kedua kakinya dan melingkarkan tangannya di atas
kakinya.
Sudut matanya memandang ke arah jendela kamarnya. Dia
tersenyum, bayang-bayang kenangan itu muncul lagi. Di sana, 4 tahun silam,
mereka berkemah di
puncak gunung Mahameru. Bayangan itu, jelas hujan seperti itu datang lagi.
“Nowa…, Nowa!!”
Suara itu terdengar samar di balik suara ricuh dari orang-orang yang
berlarian saat denting-denting hujan mulai turun. Semua jadi gelap, hanya suara
gemuruh dan perihnya debu memasuki mata.
Di antara desakan orang-orang, cewek itu terjatuh dari
ratusan orang. Tangannya melepaskan gandengan sahabatnya dan jatuh lemas diatas
rumput-rumput liar basah.
Suasana semakin menjadi dingin. Panggung pentas
berubah jadi sepi. Hanya terlihat empat orang anak sedang tergopoh-gopoh
mengangkat seorang yang tak sadarkan diri di atas rerumputan. Dan sejak saat
itu, Nowa jadi sering pingsan setiap saat.
“Haaha… lucu juga,,”
Tawanya dengan manis dan membaringkan diri untuk tidur.
---oooOooo---
Jam matematika.
Jam kosong, karena Pak Enji sedang mengikuti akreditasi.
“Eh… diem aja!” celoteh Inju yang mengagetkan Ino yang
meletakkan kepalanya di atas meja dengan raut muka malas.
Di sebelahnya, Nowa Juga melakukan hal yang sama, tapi
dengan mata tertutup. Tak bergerak sama sekali.
“Nowa laper yah?”
“Tauk,,?”
Keduanya bingung dan menghampiri Nowa.
“Nowa!!! Bangun,, ke kamar mandi yuk!”
Tapi sama sekali nggak ada jawaban.
“Nowa!!!!” teriak mereka lebih keras.
Tapi masih saja tak ada respon.
“Hmmm… tidurnya mules banget yah!!”
“Pules!! Bukan mules! Hadooh,,”
Lalu mereka membalikkan badan Nowa.
Betapa kagetnya mereka saat melihat Nowa tak sadarkan diri, dengan hidung
bersimbah darah yang berceceran di meja.
“NOWA!! NOWA!!” sontak mereka panic, badan mereka
bergetar. Kelas menjadi gaduh. Nowa yang lemas begitu tampak tak berdaya saat di
bawa ke ruang UKS oleh teman-temannya.
Tangannya mulai dingin dan membiru,, Inju dan Ino
menggenggam tangan Nowa erat. Dalam hati mereka,, mereka bertanya-tanya,, ‘apa
yang terjadi??’
---oooOooo---
5 hari kemudian.
Terlihat jelas dari sorotan matanya, kesedihan itu semakin mendalam.
Badannya masih lemas di atas tempat tidur rumah sakit. Sejak melihat satu
lampir dari dokter, 2 hari lalu. Dia baru saja melepaskan dua bintangnya yang
selama ini selalu menerangi hidupnya.
”Brakkk…”
Satu paket bunga melayang di lantai.
“Maksud loo apa Wa?” ucap Inju dan Ino dengan nada
emosi saat Nowa melempar bunga mereka begitu aja.
“Hmm… Madsud guw??”
“GUE NGGAK BUTUH BUNGA DARI LOO!!” Tambahnya dengan
kasar. Sekejap Inju dan Ino terperangah melihat apa yang dilakukan Nowa.
“Apa salah kita?”
“Hah.. salah loo,,?? Kenapa loo jadi temen gue?”
“Heyy,, ada apa sama loo Wa?” sahut Ino sambil
menyentuh tangannya.
“Lepasin tangan gue!!” balasnya dengan menepis tangan
Ino dengan kasar.
Sudut mata Inju mulai berair,, dan tak biasa ditutupi
mata Nowa mulai dibanjiri air mata.
“Wa,, ada
apa sebenarnya?”
“Loo,,
kenapa jadi kayak gini?”
Ucap Inju dan Ino sambil mencoba memeluk sahabatnya
ini.
“Don’t
touch me!!”
“Singkirin
tangan loo!” tambahnya,,
Inju menangis semakin keras, seperti anak 5 tahun yang
kehilangannya lolipopnya.
“Gue muak
sama kalian!! Ngerti!!” jelasnya dengan terisak-isak.
Tiba-tiba Inju berlari keluar sambil menutup mulutnya.
Berlari sekencang mungkin dan sejauh mungkin.
“Haah,,
nggak percaya gue!” ucap Ino perlahan, dan pergi meninggalkan Nowa dengan satu
klop bunga mawar ping muda yang tergeletak di lantai.
Sebagian kelopak bunganya patah, jatuh tak beraturan
di lantai.
Nowa masih terdiam dalam tangisnya, dia menjatuhkan
diri di samping serakan bunga di lantai.
“Tes… tes…
tes…”
Air matanya tepat mengenai kelopak bunga itu.
“Apa ini
yang berbaik??” ucapnya dengan menangis semakin keras.
“Ya Allah…
maafkanlah aku,, aku sudah membohongi mereka tentang semua ini,,”
Selalu.
Di sekolah.
Sudah beberapa kali ini, Nowa pingsan. Tapi Inju dan
Ino selalu ada buat Nowa. Namun perlakuan Nowa masih saja seperti beberapa hari
lalu.
Dan anehnya, setiap Nowa pingsan, selalu saja mimisan,
dan darahnya selalu mengalir tanpa henti. Badannya selalu lemas dan berkeringat
dingin.
“Nowa,, ada
apa sebenarnya?” Tanya Inju pada Nowa yang terbaring lemah di tempat tidur
rumah sakit.
“Nowa,,
kita kangen banget sama loo,,”
“Bangun!!”
Setelah beberapa saat, Nowa terbangun. Perlahan
matanya mulai membuka.
“Nowa,,”
ucap Ino memegang tangan Nowa.
Dia masih sangat lemah. Tapi, dia mencoba bangun.
“Kenapa
kalian di sini?” ucap Nowa.
“Nowa,,”
“Sebaiknya
loo lupain gue !! anggep aja
gue udah mati! Anggep aja gue nggak pernah ada di kehidupan loo!!”
“Kenapa
Wa?? Loo inget kan prinsip kita? Kita tuh benci sama orang yang bohongin
temennya sendiri, kita udah janji buat jujur dan blak-blakan,, tapi, kenapa loo
malah kayak gini? Jangan buat kita bingung!!” jelas Ino panjang.
“Hmm… suatu
saat,, loo pasti,, pasti dapet jawabannya,, jadi, please, jauhin gue!!”
Ketiga sahabat ini menangis tanpa henti. Menjadikan
suasana tambah haru. Suasana di mana semuanya nggak jelas, penuh tanda Tanya.
---oooOooo---
“Haah?? Loo
serius??”
“Ya,, gue
serius,, ayo cepetan!!”
Lalu secepat kilat mereka menuju rumah sakit saat tau
bahwa Nowa sedang kritis.
Sesampainya di rumah sakit, mereka melihat Nowa sedang
dikelilingi para dokter dari kaca pada pintu. Sekejap, tangan mereka menjadi
dingin, tubuh mereka bergetar.
“Apa yang
terjadi? No?”
“Gue nggak tau
Nju,,”
“Semoga aja
nggak ada apa-apa”
“Amiien…”
Setelah menunggu sekitar 2 jam. Akhirnya kondisi Nowa
stabil.
“Sekarang,
kondisi pasien sudah stabil dan sudah sadar, kalian dpat masuk namun jangan
telalu lama.” Ucap salah satu dokter.
“Ya dok,,
makasih,,”
Di dalam ruangan,,
Tatapannya masih saja lemah hanya diam membisu,
perlahan dia bangkit dan melepas infusnya. Inju dan Ino datang dengan tatapan
sedih.
“Untuk apa kalian di sini?”
“Kita,, kesini
buat ngasih ini,” ucap Inju sambil menyerahkan sebuah foto berukuran 10 x 6 cm
pada Nowa yang masih terbaring.
Lalu Nowa menggapai selembar foto itu dan
mengamatinya.
Tak terasa, satu tetes air mata keluar dari sudut
matanya saat melihat kelima anak dalam foto itu dengan naifnya. ‘Foto ini, saat
di Mahameru’ pikirnya.
Dia tersenyum manis yang disusul dengan airmata yang
berjatuhan tiada henti. Foto itu mengingatkannya dengan kejadian-kejadian saat
mereka masih bersama Ian dan Arial. Dan juga perjuangan bagaimana susahnya
hidup di sekitar hawa dingin yang mengitari sang megah Mahameru.
Dalam foto, terlihat anak yang mengenakan kaos oranye
yang tersenyum manis, pipinya makin mengembang dan bulat. Itu Ian, Arial yang
mengenakan kaos hitam dan memakai shall di lehernya tersenyum dengan
menunjukkan 2 jarinya. Nowa yang berada di atas kepala Ian juga tersenyum manis
banget dengan memegang pundak Arial. Ino Inju berpose seperti dayang di tepi
Arial, Ian, dan Nowa. Ino memasang dua tangannya dipipinya sambil tersenyum,
sedangkan Inju mengembangkan pipinya berpose dengan imut.
“Nju,
No…,,” ucap Nowa pelan.
Tapi Inju dan Ino tak menjawab, hanya membalasnya
lewat sorotan mata.
“Sebelumnya…gue…”
Nowa berhenti sejenak, menghapus air matanya.
“Gue udah
ngingkarin janji kita,, gue udah bohongin kalian,, tentang semuanya.”
Inju dan Ino menoleh dan menatap Nowa dalam-dalam.
“Semua??Apa!”
“Yaa… gue,,
gue udah nggak pantes lagi jadi temen kalian.”
“Ke..
kenapa Wa?”
“Ada apa
sebenarnya?”
“Gue jahat
banget, dari awal kita udah janji nggak akan bohong tentang apa aja. Tapi,, gue
udah ngingkarin itu,, gue nggak,, gue udah nggak sanggup lagi.”
Inju menghampiri Nowa dan menggenggam tangannya erat,
sambil meneteskan airmata, meskipun Dia nggak tau apa yang sebenarnya terjadi.
“Hidup gue
udah nggak lama lagi,,” lirih Nowa tak tahan menahan airmatanya.
“A.. apa
maksud loo…?”
“Maaf,,
kalo gue udah bohongin kalian sejak smp,,”
“Sebenarnya,,
gue sakit,, hiks... hiks.. hiks.. gue ngidap penyakit hemophilia hampir 3
tahun.” Inju dan Ino terperangah, seakan tak percaya.
“Waktu di
Mahameru, gue pingsan di tengah lapangan,, gue piker itu adalah waktu terakhir
gue, tapi ternyata Tuhan masih sayang sama gue. Gue takut banget nggak bisa
sama kalian lagi. Dan, akhirnya gue putusin buat nyuruh kalian pergi dari gue.
Supaya,, kalo gue udah saatnya. Kalian nggak bakal sedih banget.”
“Tapi,
kenapa kalian malah selalu ada buat gue?? Padahal udah jelas-jelas, gue
nyakitin kalian, gue bohongin kalian,,”
Inju dan Ino hanya terdiam, syok dengan apa yang baru
saja mereka dengar.
“Itu
karena,, sahabat sejati llo Wa,,”
Sekejap mereka memeluk Nowa erat dengan menangis
semakin keras.
“Loo,,
harus semangat!! Loo pasti sembuh!!” ucap Ino.
“Yya…
semangat!!!” sambung Inju.
Nowa hanya tersenyum simpul. Inju dan Ino melepaskan
pelukannya.
“Suatu
saat,, bila gue udah saatnya.. gue Cuma mau loo liat gue di atas langit,, gue
bakalan jadi bintang yang paling terang,, sama kayak kalian, yang udah jadi
bintang paling terang dalam hidup gue..”
Suasana menjadi haru dan sunyi. Hanya airmata yang
berbicara.
“Dan,,
permintaan terakhir gue,,”
“Pelukan
kalian…” ucapnya tertatih dalam tangis.
Perlahan Inju dan Ino mendekat, lalu memeluk Nowa yang
lemah dengan erat-erat banget.
Lama mereka berpelukan, tanpa Inju dan Ino sadari Nowa
menutup matanya dengan senyuman manisnya.
Mata yang akan selanjutnya tidak akan terbuka lagi. Di
mana semua kenangan menjadi satu dalam mimpi cewek-cewek naïf ini. Sekarang tak
akan lagi Nowa kesakitan dalam tangisnya.
Dan ‘Dia’ sudah mengambilnya dengan cara paling manis.
---oooOooo---