Lilin Hitam Berkabut
Tak terasa waktu berjalan perlahan meninggalkan petualangan sang udara yang berhembus di cerahnya pagi dan di gelapnya sinar rembulan. Sesosok perempuan yang tidak terlalu cantik berjalan perlahan menuju perjalanan yang baru yakni kelas 8 di salah satu SMP di kota kecil Pati. Perempuan pengasih ini bernama Azmi Moyna Zeny yang memiliki makna keteguhan hati yang lembut dan halus dengan penuh kemuliaan. Ya, inilah sosok perempuan yang akan mengawali kisah hidupnya yang penuh dengan kebahagiaan namun juga penuh dengan rintangan dan cobaan yang datang dari sahabatnya sendiri. Memang, Tuhan itu selalu mempunyai rencana lain yang terkadang tak seperti apa yang kita harapkan.
Matahari menguap dan burung berdendang dengan riangnya bersama sang pohon tua di balik jendela kamar Azmi. Burung itu seakan menceritakan tentang apa yang akan terjadi kepada Azmi hari ini. Setiap langkah merupakan bintang tangga menuju sebuah bintang asli yang tak akan pudar termakan waktu. Ya, ternyata hari ini memang hari yang menyenangkan untuk Azmi karena kelas 8 SMP ini Azmi satu kelas dengan sahabatnya sejak kelas 7 SMP. Namun, ada satu sahabatnya yang berada di kelas sebelah. Meski demikian, mereka berempat masih bisa bersama. Sejak saat itu, ia mulai merasa bahwa hidupnya sekarang terasa lebih lengkap dengan adanya sahabat dan keluarga yang selalu mendukungnya dan mencintainya sepenuh hati.
“Hai, Nis. Apa kabar? Sudah dapat teman sebangku belum?” tanya Azmi.
“Oh, hai..iya nih, aku belum dapat teman!”jawab Nisa.
“Eem, gimana kalau kita sebangku aja!”
“Ide yang bagus. Ya, tentu saja aku mau! Eem…kira – kira Hapsari sebangku sama siapa ya?”“Entahlah! Aku juga tidak tahu. Semoga dia mendapat teman yang baik!”
“Ya, aku juga berharap seperti itu.”
♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥
Pohon semakin tumbuh dan begitu juga dengan Azmi dan Nisa yang semakin lengket saja. Pijakan mentari tidak berlalu begitu saja. Sampai akhirnya, Azmi benar – benar yakin bahwa ia telah menemukan orang yang memang tepat untuknya yakni Atan. Awalnya ia hanya kagum saja dan belum sampai taraf yang lebih tinggi. Tak pernah terlintas di benak Azmi tentang keinginan untuk memiliki Atan ataupun berpacaran dengannya. Semakin dirasa, semakin jauh saja ia dan Atan. Bukannya semakin dekat malah seperti orang asing yang tak pernah melambaikan daunnya barang sedetikpun.
Perjalanan menuju sekelumit bintang di langit gelap berkabut yang bertabur sebuah kebanggaan tidak akan selalu berjalan lancar seperti apa yang kita inginkan. Terkadang apa yang kita inginkan dan harapkan tidak selalu baik untuk kita. Azmi selalu mengungkapkan isi hatinya dengan salah satu sahabatnya yakni Hapsari. Entah kupu – kupu apa yang menghinggapinya dengan mempercayakan semua itu pada Hapsari. Rasanya, Hapsari memang orang yang dapat dipercaya. Atan memang dekat di mata tapi jauh di hati semenjak ia berpacaran dengan makhluk indah lainnya, agaknya dia banyak berubah. ♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥
Terkadang, Azmi juga sering termenung memikirkan segenggam pertanyaan yang terpendam jauh di hatinya. Tentunya, siapa lagi kalau bukan Atan.
“Ya Allah, mengapa Engkau ciptakan cinta bila aku tidak bisa menggapainya? Mengapa aku harus jatuh cinta kepadanya? Mengapa aku tidak jatuh cinta dengan yang lainnya saja? Padahal sudah terlihat jelas sekali perbedaan kami yang bagaikan lintang utara dan selatan yang terpaut jauh oleh luasnya langit berpenghuni bintang. Aku tahu, aku memang tidak pantas untuknya dari segi manapun juga. ”
“Hei…lagi ngapain kamu? Ngelamun aja!”
Kata – kata Nisa membuyarkan lamunan Azmi dan mengakhiri segenggam pertanyaannya di hatinya.
“Ah, tidak apa – apa! Hanya sedang berpikir sedikit aja! Kamu darimana saja sih?”
“Masak sih…?? Bener..? Yakin!”
“Beneran…! Nggak bohong deh pokoknya.”
“Ya udah, ke kantin yuk!”
“Nggak ah! Makasih, aku tidak begitu lapar! Kamu duluan aja!”
“Bener, nggak apa – apa?”
“Iya… dah pergi sana!”
Di kelas 8 SMP ini, Azmi sepertinya kurang bersyukur dengan apa yang diberikan Tuhan kepadanya. Azmi merasa sangat tidak cocok dengan teman – temannya satu kelas karena memang sebenarnya kelas 7, 8 dan 9A tidak selalu kompak begitu juga dengan pendapat dari guru – guru. Namun, jika mereka sudah kompak maka batu sebesar apapun dapat dihadapinya dengan mudah dan sebuah bintang dapat diraih dengan mudah. Kelas 8A juga masih banyak siswanya yang memilih – milih teman. Buruknya lagi, teman yang dipilih bukan dari baik buruk perilakunya melainkan dari penampilan luarnya saja. Terkadang orang yang terlihat buruk dan dingin diluarnya, malah mengalami kehidupan yang sulit dan mungkin jika kita menjadi dia tidak akan setegar dirinya. Azmi juga sering mengatakan bahwa ia benci dengan teman – temannya.
Di tengah kesibukan Atan sebagai salah satu cowok populer di sekolahnya, hampir setiap hari ia juga masih sempat berpacaran. Azmi tidak habis pikir dengan sikap Atan yang seperti itu, ia lebih senang dengan Atan yang seperti dulu dan masih lugu bukannya seperti sekarang terkenal tapi menjengkelkan.“Hai Azmi!”
“Hai, Atan. Oh, kamu ternyata masih ingat sama aku ya. O…iya, aku lupa kamu kan selama ini memang pelupa ya? Hampir lupa aku!”
“E…iya deh terserah kamu. Maaf kalau aku mengganggu! Permisi!”
Setelah kejadian itu, Azmi merasa sangat menyesal dengan perkataannya yang kasar. Ia benar – benar tidak bermaksud berkata seperti itu, tapi mungkin ia hanya sedikit kesal dengan sikap Atan yang selama ini lebih mementingkan urusannya daripada temannya. Padahal dulunya ia adalah lelaki yang paling perhatian dengan teman – teman di sekitarnya. Azmi hanya bisa mengadu kepada Allah disetiap detak jantung doanya dan berharap semoga Atan seperti dulu lagi.
“Ya Allah, hanya kepada-Mu aku memohon dan meminta. Tiada Tuhan selain Engkau. Aku ingin sekali Atan bisa kembali lagi seperti dulu dan aku mohon sekali kepada-Mu ya Allah, sadarkan Atan! Kembalikan dia ya Allah! Hilangkanlah rasa cintaku kepadanya. Aku juga ingin bahagia walau tak bersama dia.”
Selesai shalat Azmi selalu memohon hal yang sama kepada Allah. Azmi hanya berpasrah dan terus berdoa. Mungkin mereka tidak berjodoh, tapi Tuhan selalu memiliki rencana lain dan begitu juga jika menyangkut soal jodoh. Tiada kata yang terucap dari mulut Azmi lagi, tiada cahaya kecil di hatinya tapi masih ada setetes cahaya dari bintang yang telah lama ia simpan. Keluarga dan sahabat merupakan satu – satunya bintang yang masih ia simpan saat ini.

Pohon besar yang berada di belakang kelas menjadi saksi perjalanan Azmi di kelas 8 selama ini bersama Atan.
“Eh…kalau aku pikir – pikir, kamu itu memang pantas jika berpacaran dengan Atan. Lagipula kalian kan sama- sama masih jomblo. Betul, kan?” tanya Hapsari kepada Azmi.“Amin…eh, enggak! Enggak jadi deh!”
“Apa? Hayo…? Kamu tadi bilang apa? Kamu beneran suka kan sama Atan!”
“Enggak, apaan sih kamu itu!”
“Alah, nggak usah bohong deh. Tadi buktinya kamu bilang amindan kamu kan nggak pandai bohong!”
“Ehmm…iya deh. Aku ngaku aja, kamu seratus persen bener.”
“Jadi…”
“Iya, aku sudah tahu apa yang akan kamu katakan!”
Semenjak itu, Hapsari senang menggoda Azmi seperti waktu itu saat pelajaran kosong dan Atan menghampiri Azmi di tempat duduknya sebelah Hapsari.
“Eh, lihat siapa yang datang itu!”kata Hapsari setengah berbisik sambil menyenggol lenganku.
“Apaan sih!“
“Hai, Azmi. Buku catatan Bahasa Indonesiamu kamu pakai apa enggak?”
“Eh…Atan. Enggak kok, nggak aku pakai. Memangnya ada apa?”
“Enggak..kalau kamu nggak pakai, aku mau pinjam. Soalnya kemarin aku kan nggak masuk sekolah!”
“Oh…ini. Pinjam aja!”
“Makasih ya!”
“He’eem…sama – sama.”
“Ehem – ehem. Ada yang lagi bersuka ria nih!”
“Huss…kamu itu. Nanti kalau dia dengar gimana?”
Dari pengalaman-pengalaman yang menjadi tapak setiap perjalanan Azmi, ia menyimpulkan bahwa biasanya orang yang suka menjodoh – jodohkan malah bisa saja orang tersebut suka sendiri sama orang yang dijodohkan tersebut. Maka dari itu, Azmi mengingatkan Hapsari tentang hal itu.
“Azmi, gimana hubungannya dengan Atan?”“Biasa-biasa saja, tak ada kemajuan ataupun kemunduran.”
“Halaaah…”
“Hapsari…sekali lagi aku ingatkan kalau kamu terus – terusan menjodohkanku dengan Atan, kamu sendiri yang bisa suka sama dia lho!”
“Ah…mana mungkin aku cinta sama Atan. Apa yang bisa dikagumi dari Atan ya?”
“Jangan bilang begitu, kalau kamu suka baru tahu rasa. Jangan – jangan…kamu udah suka sama Atan dari dulu ya?”
“Ih, mana mungkin. Aku kan sudah punya pacar sendiri.”
Di hari yang lain, Hapsari masih terbayang dengan perkataan Azmi pada hari itu. Sepertinya, ada secerca perasaan kagum di hatinya. Namun, hanya sebatas kagum saja. Ia tidak mau perasaan itu berlanjut karena ia juga sudah memiliki seorang pacar. Hapsari bukanlah orang yang lebih mementingkan pacar daripada sahabat meski kenyataannya ia lebih banyak menghabiskan waktu bersama pacarnya yang aneh itu.
♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥
Satu semester di kelas yang paling ujung dan terletak di lantai dua telah berlalu dan hari semakin menampakkan sekilas cahaya yang tersimpan dari hari sebelumnya. Tak pernah disangka dan terbayangkan, pada akhirnya Hapsari dan pacarnya putus juga. Sebetulnya, bukan karena hal yang cukup sepele tetapi karena pacar Hapsari yang berubah menjadi anak urakan sehingga Hapsari beranggapan bahwa mereka tidak bisa melanjutkan hubungan mereka lagi.
Sekitar dua bulan, Hapsari masih menelusuri hidupnya tanpa seorang pacar dan seiring berjalannya waktu perasaan Hapsari kepada Atan masih berlangsung dan akhirnya ia mengakui kepada hatinya sendiri bahwa ia suka dengan Atan. Disaat Hapsari sedang memikirkan hal tersebut, sepulang dari sekolah pada siangnya pula Atan menyatakan cintanya kepada Azmi. Meski awalnya Hapsari agak terkejut dengan itu semua tetapi hati kecilnya berusaha sabar dan merelakan itu semua untuk sahabatnya.
Orang yang selalu menunggu angin yang selama ini ia rasakan berlabuh di atas pantai akhirnya apa yang selama ini tidak pernah terbayangkan sebelumnya terjadi.
“Azmi, buku catatan Bahasa Indonesiamu tertinggal di kelas!”teriak Hapsari sewaktu pulang sekolah dengan nada gembira.“Iya, sebentar lagi aku ke atas! Memangnya ada apa sih, kok dia malah senang bukuku tertinggal!”
Azmi menyusuri lorong tempat parkir dan naik ke lantai dua menuju ke kelasnya untuk mengambil buku catatannya. Tapi, sesuatu yang mengejutkan terjadi.
“Hai, Hapsari. Mana bukuku! Ngapain kamu sendirian di kelas?”
“Nggak ada apa-apa kok! Hi,hi,hi ” kata Hapsari dengan senyum kecil.
“Ya, udah. Mana bukuku!”
Tiba – tiba…..
“Kejutan, selamat ulang tahun Azmi!”teriak sahabat-sahabat Azmi yang ternyata dari tadi berada di bawah meja.
“Oh, aku lupa kalau ini hari ulang tahunku.”
“Tunggu dulu, ada satu kejutan lagi untukmu! Itu dia sudah datang!”
“Selamat ulang tahun Azmi! Aku kesini bukan tanpa alasan, tetapi aku ingin kamu menjadi kekasihku. Kekasih yang akan menemani kala kusedih dan bahagia.”
“Kamu bercanda ya! Nggak lucu tau!” ucap Azmi sedikit jengkel.
“Aku nggak bercanda, beneran!! Jadi kamu mau atau tidak?”
“Emm…apa nantinya kamu nggak akan menyesal telah memilihku?”
“Tentu saja tidak! Apa kamu bercanda? Aku pasti akan menjadi lelaki paling beruntung jika mendapatkanmu!”jawab Atan dengan nada sangat yakin.
“Kalau begitu, aku mau jadian sama kamu. Tapi kita pacarannya tidak usah berlebihan seperti sahabatan saja.”
“Iya…”
Sahabat – sahabat Azmi yang menyaksikan kejadian itu bersorak dan bertepuk tangan. Sekitar empat bulan Azmi dan Atan berpacaran sampai suatu ketika saat Atan mengatakan kepada Hapsari bahwa ia berencana akan memutuskan Azmi karena semakin jauh di hati ia ternyata menyayangi Hapsari bukannya Azmi. Tapi, Hapsari melarangnya dan menyuruhnya untuk meneruskan hubungannya dengan Azmi.

Hapsari tidak ingin merusak persahabatannya dengan Azmi, namun kenyataannya mereka berdua tidak bisa membohongi perasaan masing – masing. Akhirnya Atan memutuskan agar mereka berdua berpacaran sambil sembunyi – sembunyi.Memang sepandai – pandai tupai melompat pasti akan jatuh juga. Seperti hubungan Atan dan Hapsari yang tidak bertahan lama karena akhirnya hubungan itu diketahui oleh Azmi ketika Hapsari tidak sengaja meninggalkan handphonenya di rumah Azmi selesai belajar kelompok. Persahabatan keduanya akhirnya goyah juga. Keesokannya Nisa dan Wina bingung melihat kedua sahabatnya yang saling bertengkar.
“Tidak kusangka ya, ternyata kamu itu memang musuh dalam selimut!”
“Azmi, tunggu. Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku memang menyayangi Atan tapi aku lebih menyayangimu.”
“Tapi kenapa? Kenapa kamu tidak mengatakannya dari dulu. Jadi aku tidak akan kecewa dan ikhlas menyerahkannya untukmu.”
“Maafkan aku! Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku tidak bisa membohongi hatiku sendiri.”
“Hapsari pergilah. Aku butuh waktu sendiri.”
Nisa dan Wina tidak tega melihat persahabatannya diambang kehancuran. Akhirnya Nisa dan Wina mendapat solusi untuk mengatasi masalah ini. Hapsari dan Azmi diundang ke rumah Wina untuk mendiskusikan masalah ini dan tidak ketinggalan Atan juga diundang. Nisa membuka percakapan.
“Kita di sini berkumpul bukan tanpa alasan, kita di sini akan mendiskusikan dan menyelesaikan masalah Hapsari dan Azmi. Jadi, apakah masalah ini berawal dari Atan?”
“Iya…pertama – tama aku akan bertanya kepada Azmi terlebih dahulu. Jadi, Azmi kamu tetap mempertahankan Atan atau merelakannya untuk Hapsari?. ” geram Wina dengan lantang.
“Saat ini juga aku ingin putus dengan Atan dan membiarkan Atan bersama Hapsari”
“Jadi gimana menurut kamu Hapsari?”
“Emm…aku tidak bisa menerima ini semua. Aku juga akan memutuskan Atan saat ini juga. Aku memang menyayangi Atan tapi lebih cinta sahabatku. Aku tidak mau persahabatanku hancur hanya karena seorang lelaki. Maafkan aku Azmi!”“Tunggu dulu…jadi kalian mengundangku ke sini hanya untuk dipermalukan dan dipermainkan! Kalian sangat tidak adil. Aku pergi!”teriak Atan yang merasa kesal.
“Maafkan kami Atan, kami tidak bermaksud mempermalukan dan mempermainkanmu!”
“Kalian keterlaluan! Aku benci kalian semua!”
“Atan…maafkan kami!”
“Sudahlah, biarkan dia sendiri. Dia butuh waktu sendirian, yang penting paling tidak persahabatan kita tidak jadi hancur. Azmi, kamu mau kan memaafkan Hapsari? ”
“Emm…aku akan mencoba melupakan ini semua dan memaafkan Hapsari. Tapi aku masih butuh waktu untuk menerima semua ini. Tidak apa kan?”
“Iya…yang penting kamu sudah mau memaafkan saja itu sudah cukup.”
Sejak saat itu, Atan masih sulit melupakannya dan bersikap sinis pada Azmi dan teman – temannya meski mereka sudah minta maaf. Sepertinya Atan memang sangat sakit hati dan sulit melupakan itu semua.
♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥
Persahabatan Azmi , Nisa, Hapsari dan Wina masih tetap berjalan dengan baik tanpa ada seorangpun yang mengganggu persahabatan mereka lagi. Sahabat laki – laki terdekat Azmi sejak kelas delapan SMP adalah Nara. Nara merupakan sesosok lelaki yang paling mengerti Azmi saat ini. Ia satu – satunya lelaki yang tidak pilih – pilih dan setia kawan.
Pertemanan antara Azmi dan Nara tidak berlangsung terlalu lama hanya sekitar enam bulan. Tapi, ternyata Nara juga menyimpan secerca rasa kepada Azmi sejak pertama kali berkenalan. Namun sayangnya, sampai saat ini Nara terlalu takut untuk mengungkapkan isi hatinya. Karena takut persahabatan mereka akan hancur karena hal ini.
Nara tidak bisa terus menerus membohongi hatinya, jadi Nara memutuskan untuk mengungkapakannya meski dengan konsekuensi persahabatan Nara dan Azmi bisa hancur. Rencananya, ia akan mengungkapkannya pada hari Senin nanti seusai sekolah. Namun, Tuhan berkata lain dan memiliki rencana lain yang tidak diketahui siapapun apalagi manusia.

Siang itu, udara sedang berhembus agak kencang karena langit mendung dan pohon asyik bermain dengan angin dingin. Tapi….“Aku hari ini kok ngantuk ya, Nis. Mungkin karena cuacanya yang dingin! Jadi, ingin tidur” kata Azmi sambil menguap.
“Ah, kamu aja yang suka tidur!”
“He, he , he. Eh, ngomong – ngomong ntar kalau udah ada gurunya aku bangunin ya! Aku mau tidur sebentar .”
Beberapa menit kemudian, guru mata pelajaran saat itu memasuki ruang kelas dan Azmi masih tertidur dengan lelapnya.
“Azmi, bangun. Azmi, ayo bangun! Gurunya sudah datang” kata Nisa sambil menyenggol tangan Azmi.
“Biarkan saja dia tidur. Jangan bangunkan sampai bel pulang sekolah nanti ” kata guru IPA.
“Mengapa anak ini tidak bangun – bangun ya!” pikir Nisa keheranan.
“Wajahnya digambar dengan spidol saja Pak!! ” kata setengah dari teman satu kelas Azmi.
Saran tersebut disetujui guru IPA dan guru tersebut mencoret pipi Azmi menggunakan spidol. Tak lama kemudian, bel sekolah berbunyi dan saatnya pulang sekolah. Tapi, sampai bel berbunyi Azmi belum bangun juga.
“Azmi, bangun! Sudah bel, ayo kita pulang!” untuk kesekian kalinya Nisa membangunkan Azmi.
Setelah diteliti lagi, ternyata Azmi telah meninggal dunia. Padahal pulang sekolah Nara akan mengungkapkan isi hatinya pada Azmi.
“Innalilahi wainnailaihi raji’un” kata Nisa dengan suara agak keras.
Serentak, seluruh siswa yang berada di kelas termasuk guru IPA saat itu gempar karena hal ini.
“Jadi, bagaimana ini? Aku kok jadi takut ya! Padahal tadi ia tidak apa – apa dan tidak mempunyai penyakit serius ataupun sedang sakit – sakitan! ” jelas Nisa
“Pantas saja, dari tadi ia tidur terus sepanjang pelajaran. Ada yang hafal nomor telepon orang tua Azmi? ” tanya guru IPA yang sedang memberikan solusi.
“Saya Pak!! ” tegas Nara.
Mulai saat itu, lilin kecil di hati sahabat Azmi masih terus terang meski tiada Azmi lagi. Bintang milik para sahabat Azmi selalu tumbuh di dekat lilin kecil sebuah kebanggaan kepada Azmi yang menjadi sahabat terbaik yang pernah mereka miliki dan tidak akan pudar walau matahari terus bersinar sampai kapanpun.Nara yang selama ini menyayanginya merasa bersalah karena ia tidak pernah bisa memberikan kebahagiaan untuk Azmi disisa hidupnya.

0 Response to "Cerpen Lilin Hitam Berkabut"
Posting Komentar