Latest Updates

Soal dan Kunci Jawaban Modul Instalasi Perangkat Jaringan Berbasis Luas

     Pada kesempatan kali ini, YEFRY akan mengalirkan ilmunya tentang soal dan kunci jawaban modul instalasi perangkat jaringan berbasis luas untuk sobat blogger semua.

Untuk mendownload dan meyimpan file lengkapnya, silakan klik gambar di bawah ini.


password Ms Word : yefry

Terima kasih telah berkunjung ke blog saya :)

Cerpen Nggak Semanis Tawamu


Nggak Semanis Tawamu

devi

Untuk pertama kali ini mereka tidak bergandeng tangan bertiga lagi, tidak seperti waktu-waktu silam, kemanapun, kapanpun, dan dimanapun, mereka bertiga sudah seperti tiga badut konyol yang ketiganya sudah terkena ayan permanen. Meskipun tak separah itu, tapi pada kenyataan di lapangan juga tampak 3 orang yang gila, kesana kesini nggak ada tujuan.
“Ahh, nggak asiik loo…”, dumel salah satu personil 3 badut konyol tadi dengan menggerutu nggak jelas saat melihat layar hapenya.
“Kenapa?? Nggak jadi kan??”, sahut satunya lagi.
“Kenapa yah,, akhir-akhir ini, Nowa agak aneh gituh…”
“Aneh?? Aneh gimana?”
“Ya aneh aja, diajak jalan nggak mau,, padahal dulu, dia hobby banget gila-gilaan”.
“Hahah… dia nyelingkuhin kita!!”
“Hmm….,, kalo emang bener dia nyelingkuhin kita,, gue nggak trima!!”
“Setuju!!!”
“Hahahah…”
“Putus aja,,!!”
“Siiipp bray,,”

----oooOooo----

Sementara itu,
“Hahah, kok putus,”
Duduk manis seorang cewek di atas tempat tidurnya dengan cekikian membawa sms dari temannya yang udah klop gilanya. Lalu, tangannya menari-nari di atas keypad hapenya tanpa pikir panjang.
“Jangan diputus a bebh, sini lho, maen ke rumahku, tak tunggu!!”
Ting…tong…
‘ngggeeeekkkk…..’
Pintunya terbuka sedikit demi sedikit. Tampak dua seorang cewek yang udah cengar-cengir nggak jelas sambil menaik turunkan alisnya, persis kayak anak sd cacingan.
“Silakan ma…,,” tak sempat meneruskan ucapannya, salah satu personil trio gila nyelonong masuk ke dalam rumah.
“Anggap aja rumah sendiri!! Hahah…” sahutnya tanpa dosa.

Di ruang tamu,
“Loo mau minum apa?” Tanya Nowa
“Emmh… Gue jus jeruk,, gulanya 2 sendok teh aja, trus jeruknya musti yang seger,, truss kalo diblender, yang lama, biar alus,, trus tambahin 2 kotak es, cukup, heheh….” Oceh ina.
“Apa ada yang kurang lagi?” sahut Nowa dengan nada emosi.
“Wah,, santai bray… wkwk,,”
“Huuh!!! Kalo Inju?”
“Kalo gue, cukup kopi moca cina aja,”
“Ok ok ok…”
“Oh ya mbak,, jangan pake lama ya!!”
“Siip!! Oke!”

2 menit kemudian
“Pesanan datang….” Kata Nowa dengan membawa nampan yang berisi satu cangkir kecil dan satu lagi gelas berisi jus jeruk serta satu toples camilan kentang goreng.
“Nah, ini jus jeruk dengan 2 sendok teh gula, jeruk segar, halus, serta tambahan 2 kotak es. Dan kopi mocacino.” Ucapnya dengan meletakkannya pada meja.
“Siiip… like this!!” celoteh Inju.
“By the way,, kenapa elo mutusin gue?”
“Eloo-nya nggak asik!! Nggak mau jalan bareng kita,, ya nggak Nju?”
“He-em,, loo pasti lagi selingkuh kan?”
“Hahahah… gilak loo semua!!”
“Gue kan jomblo 100%,, always with you bebh!! Wkwk” tambahnya
“Haa… jangan bohong luu!!”
“Iya,, loo pasti bohong kan?? Siapa sih bebebh loo yang new itu,, Arial taruh dimana?”
“Iiih… sumpah!! Nggak ada! Sekarang udah ga tau kabar si ‘kapur tulis sd’ itu,,”
“Laa trus?”
“Trus?? Truss gimana?”
“Trus, kenapa loo tadi nggak mau join sama kita?” sambung Inju.
“Itu karena badan gue capek tauk!!,, seharian kemarin,, panas-panasan,,, haddooh,, betapa menderitanya gue!”
“Haa,, pasti jam-nya pak gatok kan?”
“Ya,, Enzackly!! lari 12 menit!!”
“Hahahah… DL!! Derita Loo!! Wkkwk!” sahut Ino dan Inju bersamaan.
“???!! Emosi gue!!”
“Plissstt mbak bro”
“Just kidding kok,, hkhkhk”
Trio gila ini semakin tambah gila dari waktu ke waktu, nongkrong nggak jelas, ngobrolin apa aja yang bisa diobrolin ato hanya dengerin music yang pastinya juga nggak jelas.
Keunikan tiga cewek ini hanya pada mereka tidak mau ada rahasia ato apalah namanya yang saling disembunyikan. Ato menkritik di belakang orang, itulah satu-satunya hal yang sangat mereka benci.
“Lebih baik, omongin aja semua apa yang ada di hati loo dihadapan dia, orang yang loo omongin. Daripada jadi salah paham, dan nggak ada ujungnya. Cuma buat nabung dosa aja,, toh, apa salahnya kalo langsung aja bilang,, biar nggak jadi konflik. Kita benci omongin orang di belakang!!” Ucap Nowa suatu waktu.
Blak-blakan dan apa adanya, menjadi prioritas utama kelompok gila ini. Dan inilah yang membuat mereka tetep akur, sejak sd, smp dan sampai sekarang.
Sebelumnya, jumlah kelompok gila ini berjumlah 5 orang, Nowa, Ino, Inju, Arial, dan Ian. Dulu mereka sangat akrab dan bahkan seperti saudara. Namun, sejak lulus smp, Ian dan Arial,, dua cowok ini pindah ke Denmark. Tempat dimana mereka akan hidup setelah itu, Arial, cowok yang satu ini punya postur gepeng dan gitu-gitu aja,, julukan kecilnya yang cocok banget sama dia yaitu ‘kapur tulis sd’. Mungkin dalam postur mini Arial, pasti sama persis kayak kapur tulis sd. Arial suka banget novelnya Dhony Dirgantoro, perjuangan tentang persahabatan dan kehidupan.
Ian, cowok yang punya postur tubuh bulet ini juga nggak kalah lucu. Pipinya chubi dan suka berargumen tentang hal-hal yang nggak penting. Nggak penting banget malahan.
“Hembb… kira-kira siapa ya yang tau, gimana bentuknya kotoran semut?”
“Garing,”
“Garing,,,”
“Garing…”
“Garing!!”
Garing banget dan nggak pernah nyambung. Dan kadang juga bikin risih karena celotehnya yang nggak pernah bener. Tapi sisi lain Ian punya hati yang lembek, yang nggak tahan liat air mata temennya menetes, dia selalu jadi bantal yang nyaman buat siapa aja yang lagi sedih. Semua perbedaan nggak membuat mereka terpecah, dan justru dari berbedaan itu, mereka saling melengkapi. Makna dari kata sahabat dan apa arti perjuangan kehidupan telah mereka alami, 2 tahun silam, mereka berjuang di dalam dekapan maut dan dinginnya dunia untuk mendaki satu tujuan.
Menghargai betapa bahagianya mereka hidup tanpa kekurangan apapun. Satu bukti nyata Tuhan bahwa Dia itu memang ada. Meskipun denting-denting waktu terus berjalan.
---oooOooo---

Malam ini turun hujan, menambah suasana menjadi beku. Di balik jendela kamar tampak sosok cewek yang termenung di atas tempat tidurnya dengan melipat kedua kakinya dan melingkarkan tangannya di atas kakinya.
Sudut matanya memandang ke arah jendela kamarnya. Dia tersenyum, bayang-bayang kenangan itu muncul lagi. Di sana, 4 tahun silam, mereka berkemah di puncak gunung Mahameru. Bayangan itu, jelas hujan seperti itu datang lagi.
“Nowa…, Nowa!!”
Suara itu terdengar samar di balik suara ricuh dari orang-orang yang berlarian saat denting-denting hujan mulai turun. Semua jadi gelap, hanya suara gemuruh dan perihnya debu memasuki mata.
Di antara desakan orang-orang, cewek itu terjatuh dari ratusan orang. Tangannya melepaskan gandengan sahabatnya dan jatuh lemas diatas rumput-rumput liar basah.
Suasana semakin menjadi dingin. Panggung pentas berubah jadi sepi. Hanya terlihat empat orang anak sedang tergopoh-gopoh mengangkat seorang yang tak sadarkan diri di atas rerumputan. Dan sejak saat itu, Nowa jadi sering pingsan setiap saat.
“Haaha… lucu juga,,”
Tawanya dengan manis dan membaringkan diri untuk tidur.
---oooOooo---

Jam matematika.
Jam kosong, karena Pak Enji sedang mengikuti akreditasi.
“Eh… diem aja!” celoteh Inju yang mengagetkan Ino yang meletakkan kepalanya di atas meja dengan raut muka malas.
Di sebelahnya, Nowa Juga melakukan hal yang sama, tapi dengan mata tertutup. Tak bergerak sama sekali.
“Nowa laper yah?”
“Tauk,,?”
Keduanya bingung dan menghampiri Nowa.
“Nowa!!! Bangun,, ke kamar mandi yuk!”
Tapi sama sekali nggak ada jawaban.
“Nowa!!!!” teriak mereka lebih keras.
Tapi masih saja tak ada respon.
“Hmmm… tidurnya mules banget yah!!”
“Pules!! Bukan mules! Hadooh,,”
Lalu mereka membalikkan badan Nowa.
Betapa kagetnya mereka saat melihat Nowa tak sadarkan diri, dengan hidung bersimbah darah yang berceceran di meja.

“NOWA!! NOWA!!” sontak mereka panic, badan mereka bergetar. Kelas menjadi gaduh. Nowa yang lemas begitu tampak tak berdaya saat di bawa ke ruang UKS oleh teman-temannya.
Tangannya mulai dingin dan membiru,, Inju dan Ino menggenggam tangan Nowa erat. Dalam hati mereka,, mereka bertanya-tanya,, ‘apa yang terjadi??’

---oooOooo---

5 hari kemudian.
Terlihat jelas dari sorotan matanya, kesedihan itu semakin mendalam. Badannya masih lemas di atas tempat tidur rumah sakit. Sejak melihat satu lampir dari dokter, 2 hari lalu. Dia baru saja melepaskan dua bintangnya yang selama ini selalu menerangi hidupnya.
”Brakkk…”
Satu paket bunga melayang di lantai.
“Maksud loo apa Wa?” ucap Inju dan Ino dengan nada emosi saat Nowa melempar bunga mereka begitu aja.
“Hmm… Madsud guw??”
“GUE NGGAK BUTUH BUNGA DARI LOO!!” Tambahnya dengan kasar. Sekejap Inju dan Ino terperangah melihat apa yang dilakukan Nowa.
“Apa salah kita?”
“Hah.. salah loo,,?? Kenapa loo jadi temen gue?”
“Heyy,, ada apa sama loo Wa?” sahut Ino sambil menyentuh tangannya.
“Lepasin tangan gue!!” balasnya dengan menepis tangan Ino dengan kasar.

Sudut mata Inju mulai berair,, dan tak biasa ditutupi mata Nowa mulai dibanjiri air mata.
      “Wa,, ada apa sebenarnya?”
      “Loo,, kenapa jadi kayak gini?”
Ucap Inju dan Ino sambil mencoba memeluk sahabatnya ini.
      “Don’t touch me!!”
      “Singkirin tangan loo!” tambahnya,,
Inju menangis semakin keras, seperti anak 5 tahun yang kehilangannya lolipopnya.
      “Gue muak sama kalian!! Ngerti!!” jelasnya dengan terisak-isak.

Tiba-tiba Inju berlari keluar sambil menutup mulutnya. Berlari sekencang mungkin dan sejauh mungkin.
      “Haah,, nggak percaya gue!” ucap Ino perlahan, dan pergi meninggalkan Nowa dengan satu klop bunga mawar ping muda yang tergeletak di lantai.
Sebagian kelopak bunganya patah, jatuh tak beraturan di lantai.
Nowa masih terdiam dalam tangisnya, dia menjatuhkan diri di samping serakan bunga di lantai.
      “Tes… tes… tes…”
Air matanya tepat mengenai kelopak bunga itu.
      “Apa ini yang berbaik??” ucapnya dengan menangis semakin keras.
      “Ya Allah… maafkanlah aku,, aku sudah membohongi mereka tentang semua ini,,”

Selalu.
Di sekolah.
Sudah beberapa kali ini, Nowa pingsan. Tapi Inju dan Ino selalu ada buat Nowa. Namun perlakuan Nowa masih saja seperti beberapa hari lalu.
Dan anehnya, setiap Nowa pingsan, selalu saja mimisan, dan darahnya selalu mengalir tanpa henti. Badannya selalu lemas dan berkeringat dingin.
      “Nowa,, ada apa sebenarnya?” Tanya Inju pada Nowa yang terbaring lemah di tempat tidur rumah sakit.
      “Nowa,, kita kangen banget sama loo,,”
      “Bangun!!”

Setelah beberapa saat, Nowa terbangun. Perlahan matanya mulai membuka.
      “Nowa,,” ucap Ino memegang tangan Nowa.
Dia masih sangat lemah. Tapi, dia mencoba bangun.
      “Kenapa kalian di sini?” ucap Nowa.
      “Nowa,,”
      “Sebaiknya loo lupain gue            !! anggep aja gue udah mati! Anggep aja gue nggak pernah ada di kehidupan loo!!”
      “Kenapa Wa?? Loo inget kan prinsip kita? Kita tuh benci sama orang yang bohongin temennya sendiri, kita udah janji buat jujur dan blak-blakan,, tapi, kenapa loo malah kayak gini? Jangan buat kita bingung!!” jelas Ino panjang.
      “Hmm… suatu saat,, loo pasti,, pasti dapet jawabannya,, jadi, please, jauhin gue!!”
Ketiga sahabat ini menangis tanpa henti. Menjadikan suasana tambah haru. Suasana di mana semuanya nggak jelas, penuh tanda Tanya.

---oooOooo---

      “Haah?? Loo serius??”
      “Ya,, gue serius,, ayo cepetan!!”
Lalu secepat kilat mereka menuju rumah sakit saat tau bahwa Nowa sedang kritis.

Sesampainya di rumah sakit, mereka melihat Nowa sedang dikelilingi para dokter dari kaca pada pintu. Sekejap, tangan mereka menjadi dingin, tubuh mereka bergetar.
      “Apa yang terjadi? No?”
      “Gue nggak tau Nju,,”
      “Semoga aja nggak ada apa-apa”
      “Amiien…”
Setelah menunggu sekitar 2 jam. Akhirnya kondisi Nowa stabil.
      “Sekarang, kondisi pasien sudah stabil dan sudah sadar, kalian dpat masuk namun jangan telalu lama.” Ucap salah satu dokter.
      “Ya dok,, makasih,,”

Di dalam ruangan,,
Tatapannya masih saja lemah hanya diam membisu, perlahan dia bangkit dan melepas infusnya. Inju dan Ino datang dengan tatapan sedih.
      “Untuk apa kalian di sini?”
      “Kita,, kesini buat ngasih ini,” ucap Inju sambil menyerahkan sebuah foto berukuran 10 x 6 cm pada Nowa yang masih terbaring.
Lalu Nowa menggapai selembar foto itu dan mengamatinya.
Tak terasa, satu tetes air mata keluar dari sudut matanya saat melihat kelima anak dalam foto itu dengan naifnya. ‘Foto ini, saat di Mahameru’ pikirnya.
Dia tersenyum manis yang disusul dengan airmata yang berjatuhan tiada henti. Foto itu mengingatkannya dengan kejadian-kejadian saat mereka masih bersama Ian dan Arial. Dan juga perjuangan bagaimana susahnya hidup di sekitar hawa dingin yang mengitari sang megah Mahameru.
Dalam foto, terlihat anak yang mengenakan kaos oranye yang tersenyum manis, pipinya makin mengembang dan bulat. Itu Ian, Arial yang mengenakan kaos hitam dan memakai shall di lehernya tersenyum dengan menunjukkan 2 jarinya. Nowa yang berada di atas kepala Ian juga tersenyum manis banget dengan memegang pundak Arial. Ino Inju berpose seperti dayang di tepi Arial, Ian, dan Nowa. Ino memasang dua tangannya dipipinya sambil tersenyum, sedangkan Inju mengembangkan pipinya berpose dengan imut.

      “Nju, No…,,” ucap Nowa pelan.
Tapi Inju dan Ino tak menjawab, hanya membalasnya lewat sorotan mata.
      “Sebelumnya…gue…” Nowa berhenti sejenak, menghapus air matanya.
      “Gue udah ngingkarin janji kita,, gue udah bohongin kalian,, tentang semuanya.”
Inju dan Ino menoleh dan menatap Nowa dalam-dalam.
      “Semua??Apa!”
      “Yaa… gue,, gue udah nggak pantes lagi jadi temen kalian.”
      “Ke.. kenapa Wa?”
      “Ada apa sebenarnya?”
      “Gue jahat banget, dari awal kita udah janji nggak akan bohong tentang apa aja. Tapi,, gue udah ngingkarin itu,, gue nggak,, gue udah nggak sanggup lagi.”
Inju menghampiri Nowa dan menggenggam tangannya erat, sambil meneteskan airmata, meskipun Dia nggak tau apa yang sebenarnya terjadi.
      “Hidup gue udah nggak lama lagi,,” lirih Nowa tak tahan menahan airmatanya.
      “A.. apa maksud loo…?”
      “Maaf,, kalo gue udah bohongin kalian sejak smp,,”
      “Sebenarnya,, gue sakit,, hiks... hiks.. hiks.. gue ngidap penyakit hemophilia hampir 3 tahun.” Inju dan Ino terperangah, seakan tak percaya.
      “Waktu di Mahameru, gue pingsan di tengah lapangan,, gue piker itu adalah waktu terakhir gue, tapi ternyata Tuhan masih sayang sama gue. Gue takut banget nggak bisa sama kalian lagi. Dan, akhirnya gue putusin buat nyuruh kalian pergi dari gue. Supaya,, kalo gue udah saatnya. Kalian nggak bakal sedih banget.”
      “Tapi, kenapa kalian malah selalu ada buat gue?? Padahal udah jelas-jelas, gue nyakitin kalian, gue bohongin kalian,,”
Inju dan Ino hanya terdiam, syok dengan apa yang baru saja mereka dengar.
      “Itu karena,, sahabat sejati llo Wa,,”
Sekejap mereka memeluk Nowa erat dengan menangis semakin keras.
      “Loo,, harus semangat!! Loo pasti sembuh!!” ucap Ino.
      “Yya… semangat!!!” sambung Inju.
Nowa hanya tersenyum simpul. Inju dan Ino melepaskan pelukannya.
      “Suatu saat,, bila gue udah saatnya.. gue Cuma mau loo liat gue di atas langit,, gue bakalan jadi bintang yang paling terang,, sama kayak kalian, yang udah jadi bintang paling terang dalam hidup gue..”
Suasana menjadi haru dan sunyi. Hanya airmata yang berbicara.
      “Dan,, permintaan terakhir gue,,”
      “Pelukan kalian…” ucapnya tertatih dalam tangis.
Perlahan Inju dan Ino mendekat, lalu memeluk Nowa yang lemah dengan erat-erat banget.
Lama mereka berpelukan, tanpa Inju dan Ino sadari Nowa menutup matanya dengan senyuman manisnya.
Mata yang akan selanjutnya tidak akan terbuka lagi. Di mana semua kenangan menjadi satu dalam mimpi cewek-cewek naïf ini. Sekarang tak akan lagi Nowa kesakitan dalam tangisnya.
Dan ‘Dia’ sudah mengambilnya dengan cara paling manis.

---oooOooo---

     



Modul PKn Kelas XI Semester 3 dan 4

     Ok sobat blogger, kali ini YEFRY akan memberikan modul gratis PKn kelas XI semester 3 dan 4 untuk para pelajar SMK sederajat.

Untuk mendownload dan menyimpan modul lengkapnya, silakan klik gambar di bawah ini.


Terima kasih telah berkunjung di blog saya :)

Cerpen Sekolah Tembok Cina

Cerpen Sekolah Tembok Cina
SEKOLAH TEMBOK CINA
Angin malam bertiup lembut. Menyelisik sela-sela lubang jendela. Malam beranjak datang. Rumah megah itu akhirnya lengang, setelah tadi terdengar riuh oleh hardikan-hardilkan. Hanya suara burung hantu dari kejauhan, ditingkahi derik jangkrik bernyanyi mengiringi bentakan tajam bernada tinggi mengharukan.
          “Bisa tidak kamu merubah sedikit saja penampilanmu? Aku muak melihatnya!” kata-kata pahit keluar dari seorang lelaki dewasa kepada istrinya.
          “Lalu aku harus bagaimana, Mas ?” tanya sang istri dengan suara melemah terisak air mata kepedihan.
          “Aku malu pada rekan kerjaku! Setiap mereka mampir ke sini dan melihat penampilanmu, mereka menganggapmu bagai seorang pembantu!”
          “Apa itu salahku, Mas?”
          “Jelas salahmu! penampilan seadanya, tidak pernah bergaul. Kamu ini istri seorang bos, Rima!”
          Rima hanya bisa menelan ludah getir atas semua perkataan suaminya. Yang ada di pikirannya hanya image di mata rekan kerjanya.Tanpa memikirkan perasaan dan hati kecil perempuan yang dinikahinya 4 tahun silam itu. Dugem hingga menjelang fajar di tempat hiburan, menghabiskan waktu di mall-mall, arisan di sana sini. Mungkin itulah yang diinginkan suami Rima untuk dirinya. Bergaul seperti istri rekan kerjanya yang lain. Tak seperti Rima yang kerjanya hanya mendatangi pengajian, ke pasar sekedar memenuhi kebutuhan, tanpa mempedulikan dunia hiburan di luar sana. Dianggap suami Rima terlalu kuper dan tidak mengimbangi jabatannya sebagai kepala perusahaan.
          Matahari merangkak naik. Pertanda pagi pun mulai tiba. Sinar surya yang semakin memanas, membuat Rima pagi itu bergegas membangunkan suaminya yang masih membolak-balik selimut di atas ranjang.
          “Mas, ayo bangun. Sudah pagi.” Suara Rima pelan membangunkan suaminya.
          “Iya.”
          “Aku sudah siapkan air hangatnya.”
          “iya-iya! banyak omong kamu!” jawab Hendra yang tak lain adalah suami Rima dengan nada menyeru.
          Rima dengan ikhlas membantu mempersiapkan suaminya untuk berangkat bekerja. Mengabdikan dirinya untuk menjadi istri yang berbakti pada suami. Walau lecehan dan cacian ia terima hampir setiap hari.
          “Aku nanti pulang telat.” Hendra berbicara sangat singkat tanpa basa basi.
          “Ada apa memangnya, Mas?”
          “Sudahlah jangan banyak tanya!”
          “Aku kan hanya ingin memastikan.”
          “Pokoknya aku pulang telat! ngerti nggak sih?”
          “iya…..iya Mas aku ngerti.” jawab Rima dengan bibir gemetar dan keringat bercucuran.
          “Jaga rumah baik-baik, Rima”
          “Iya, Mas. Pasti.”
          “Bisamu kan hanya itu. Kuper!” sahut Hendra dengan sindiran tajam menusuk hati Rima.
          “Astaghfirullahaladzim….” Kata Rima dalam hati. Lebih memperkokoh benteng ketabahannya.
          Kerudung Rima yang menutupi rapat kepalanya, memancarkan aura kecantikan tersendiri yang tak disadari Hendra. Sangat berhati-hati dalam memilih pergaulan dan berbakti penuh pada suami. Entah bagaimana Hendra tega mendzalimi wanita sholehah itu.
          Desis keramaian malam mulai surut di sekitar pemukiman elite tempat tinggal Rima dan suaminya. Semakin sunyi dan sunyi. Jarum jam berputar tak pernah lepas dari tatapan Rima. Malam semakin larut dirasa, namun Hendra tak kunjung pulang. Meski ia tahu Hendra pulang telat, tapi perasaannya berkata lain. Tiba-tiba…….
          “Jedyarrr…..!” suara pintu terbuka keras.
          “Astaghfirullah, Mas kenapa?” Rima mendekati Hendra yang baru pulang tengah malam.
          “Aahhhh.. minggir-minggir! Pergi sana! Aku mau tidur!”
          “Kamu darimana, Mas? Bukankah jam kerja sedang tidak lembur? Masak telat sampai selarut ini?”
          “ Ppakk !!!” Sebuah tamparan berlabuh di pipi halus Rima.
          “Jangan banyak tanya kamu, Rima! Jangan sok tahu!” bentak Hendra.
         “Aku memperhatikanmu, Mas. Tapi mengapa ini yang kamu lakukan padaku? Aku istrimu. Sadar, Mas.”
         “Kamu yang memulai terlebih dahulu, Rima! Aku muak dengan tingkahmu.” Bentak Hendra lebih keras dan melangkahkan kaki enyah dari hadapan Rima.
Hadiah pahit Rima terima lagi malam itu. Luluhan air matanya pun tak digubris barang sedikit oleh Hendra. Sungguh ironi yang menyedihkan. Di tengah malam yang sunyi dan kelabu bagi seorang perempuan seperti Rima itu, konflik dengan suaminya tak lantas membuatnya larut dalam kepedihan. Setelah ia mengambil air wudhu, dengan mantap ia mampirkan tangannya untuk membuka sebuah Al-Qur’an yang tergeletak di atas meja ruang tamu utama. Rima mulai membukanya.
         “Bismillahirrahmanirrahim…” suara Rima berhenti sejenak menghela nafas.
Rima melantunkan ayat-ayat suci kitab Allah itu dengan syahdunya. Entah mengapa hatinya damai setelah membaca Al-Qur’an. Dan tak heran. Rima begitu kuat menghadapi segala rintang yang menghiasi perjalanan hidupnya.
          Hari pun berganti hari. Kelakuan Hendra semakin menjadi. Pulang selalu tak tepat waktu, hingga bahkan sampai minggu ke-2 atau ke-3. Hati kecil Rima bertanya, harus sampai kapan beban derita ini hinggap dan tak henti-henti menusuk batinnya. Rima berusaha mengorek informasi tentang suaminya. Muncul di pikirannya untuk mengikuti suaminya saat berangkat kerja. Ia terpaksa berbuat seperti ini, walau ia tahu caranya ini salah. Namun demi suami yang sangat ia cintai, Rima rela berbuat seperti itu dan ia akan siap dengan segala resiko yang nantinya datang.
          “Mas Hendra, hari ini lembur lagi?” tanya Rima pada Hendra saat ia tengah sibuk menata dasi di lehernya.
          “Bukan urusanmu !” jawab Hendra sewot.
          “Biar aku bantu membenahi dasinya, Mas” rayu Rima.
          “Ahh.. tidak usah! aku mau berangkat, takut telat! Awas!”
          Hendra mendorong Rima dan berlalu meninggalkannya. Jarak beberapa meter Hendra meninggalkan rumah, Rima segera melancarkan aksinya dengan mengendarai taksi yang telah disewa sebelumnya. Ia sangat berhati-hati memata-matai suaminya. Ia tak pernah kehilangan arah. Pandangannya tak pernah lepas dari grand livina silver yang dikendarai suaminya. Tak disangka, mobil itu berhenti tepat di sebuah hotel di kawasan Kemang yang relatif jauh dari kantor Hendra. Tanda tanya besar menyeruak dalam pikiran Rima. Sebelumnya, ia tak pernah tahu bisnis suaminya sampai ke hotel. Tapi kali ini, matanya benar-benar menyaksikan suaminya berdusta padanya.
          Hendra semakin jauh masuk ke dalam hotel. Berjalan dengan langkah tergesa menuju kamar 126A yang mungkin telah dibooking sebelumnya. Dengan cekatan Rima membuntuti langkah suaminya.
          “Cekrikk..” Hendra membuka pintu kamar hotel. Rima mengintip dari dekat kusen pintu sedikit menjongkok agar mata suaminya tak melihat keberadaannya. Namun…
          “Malam, Sayang.” suara Hendra lembut menyapa seorang wanita setengah dewasa membaringkan badan di atas ranjang dengan wajah agak muram.
          “Lama sekali Mas, datangnya. Aku bosan tahu nggak?!” jawab gadis itu ketus.
          “Maaf. Mas tadi di jalan kena macet.”
          “Sekarang aku maunya sama kamu, Mas. Jangan pergi kemana-kemana.”
          “Pasti, Sayangku” kata Hendra lembut sembari mendekat kepada wanita tersebut.
          Rima tak bisa tolak dentuman dalam hatinya yang berdegub kencang bagai genderang. Air matanya runtuh diiringi isakan yang menyempitkan rongga dada. Darahnya mulai naik dan semakin naik mencapai titik didih. Tak membuang-buang waktu, kaki Rima membawanya masuk ke dalam kamar hotel yang kebetulan tak tertutup rapat.
          “Mas Hendra! Apa yang kamu lakukan disini, Mas?” tanya Rima secara tiba-tiba ke arah dua sejoli yang tak bermuhrim itu.
          “Rima? Ka .. ka .. kamu kok ..” jawaban Hendra gugup dan terputus.
          “Astaghfirullah, Mas. Tega kamu padaku! Aku mencoba sabar dengan tingkah kasarmu selama ini. Apa itu tak cukup? Hingga membuatmu sejauh ini menyakitiku. Siapa perempuan ini ?”
          “Bagus kalau kamu sudah tahu, setidaknya perempuan ini bisa memberikan keturunan dan tentunya lebih baik darimu!” jawab Hendra dengan yakin tanpa kepanikan sedikitpun.
          “Ternyata itu yang membuatmu benci padaku, Mas. Aku tak menyangka kau sekejam itu.”
           “Memang. Lalu apa yang akan kau lakukan? Dengan seperti ini apa kamu bisa memberiku keturunan?”
          “Begini saja, Mas. Sekarang, Mas Hendra pilih aku atau perempuan itu?”
          “Kalau aku pilih dia, lantas kamu mau apa?”
          “Tega kamu, Mas! Kamu anggap aku selama ini apa? Kesabaranku, ketabahanku, pengabdianku padamu kau anggap sia-sia begitu saja? Sudah cukup hatiku merasakan getir karena tingkahmu! Terserah kamu, Mas! Terserah!” Rima pun berlalu dengan emosi penuh dan membanting pintu dengan tenaga penuh, beda dari biasanya.
          Hendra tak menggubris kemarahan istrinya. Ia menganggap angin lalu dan pasti tidak akan berbuntut panjang. Namun, pikiran itu melenceng. Saat ia sampai di rumah, tak ada sambutan hangat Rima yang biasanya pasti mampir padanya sepulang dari bekerja. Sunyi dan tak ada suara. Berbagai sudut ia singgahi, namun keberadaan sang istri tak ditemui.
          Sehari berlalu Hendra cuek saja. Dua hari berlalu ia tetap tidak mempedulikan. Hingga menginjak bulan pertama perginya Rima, ia mulai resah. Tak kepeduliannya seakan luntur dimakan waktu setelah kepergian Rima. Hendra mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh mengelilingi kota Jakarta. Mencari  dan terus mencari keberadaan Rima. Saat matanya memburu di setiap sisi tiba-tiba tatapannya tertuju ke seorang wanita penjual asongan berkerudung violet sedikit kumel dan berdebu sedang menjajakan dagangannya di lampu merah yang ternyata adalah Rima.
          “Rimaaa..!” teriak Hendra dari kejauhan setelah memberhentikan mobilnya di tepi Jl.Diponegoro kawasan Tangerang.
Hendra mempercepat langkahnya menyebarangi jalan raya dengan kebisingan kendaraan dan menuju lampu merah. Namun yang terjadi…
          “Jedyyaaakkkk!”
Lengang. Sunyi tanpa suara. Hendra membuka matanya perlahan. Dan menyadari dirinya tengah terbaring di ranjang ruangan putih penuh alat dokter. Di Rumah Sakit.
          “Rima?” suara Hendra lemah setelah sadar dari pingsannya sambil menyipitkan matanya memastikan apakah benar wanita yang ada di hadapannya adalah Rima.
          “Iya, Mas. Ini aku. Istrimu.” Jawab wanita itu yang ternyata benar Rima.
          “Rima… kamu kemana saja? Aku mencarimu.”
          “Mas Hendra tenang saja. Sekarang aku ada di sini. Lebih baik sekarang kamu istirahat saja, Mas. Aku tak mau terjadi hal buruk padamu setelah kejadian tabrakan tadi.” Jawab Rima sembari membelai rambut Hendra pertanda kecemasan yang kuat sedang dirasakannya.
          “Maafkan semua kesalahanku selama ini, Rima. Aku khilaf. Aku sangat menyesalinya.
          “Apa, Mas?” sahut Rima dengan mata terbelalak dan tak percaya.
          “Aku ingin menjadi suami yang lebih baik lagi bagimu.”
Kata-kata Hendra sungguh menyegarkan hati Rima yang gersang saat itu. Matanya berbinar. Tangannya meraih tangan Hendra yang lemah bertahtakan infus dan alat Rumah Sakit lainnya.
          “Iya, Mas. Aku menerima maafmu. Alhamdulillah sekarang kamu sudah kembali seperti Mas Hendra yang kukenal 4 tahun yang lalu.”
Rima terlihat begitu senang. Spontanitas ia memeberikan pelukan hangat pada suaminya dengan erat dengan senyuman manis yang tak kunjung usai.
          “Tapi Rima…” suara Hendra menghentikan senyuman Rima.
          “Tapi apa, Mas?” tanya Rima penasaran.
          “Aku tidak bisa mengelak kalau aku ingin memiliki keturunan. Aku sangat menantikannya. Tapi aku tahu kamu tidak bisa memberikan itu.”
          “Lalu maksud Mas Hendra?”
          “Bolehkah aku berpoligami?”
           Kata-kata Hendra menghentikan 30 menit kebahagiaan Rima. Perasaan suka cita yang ia rasakan sebelumnya sirna hanya dengan pertanyaan Hendra yang mengoyak kalbunya. Di sisi lain ia sangat menginginkan kebahagiaan kembalinya Hendra hanya berdua. Namun ia sadar kekurangannya sebagai kaum hawa yang tidak bisa memberikan buah cinta pada suami tercintanya. Bimbang ia rasakan. Antara ya atau tidak.
Rima hanya bisa meneteskan deras air matanya dan keluar dari ruang rawat Hendra. Menyembunyikan perih hatinya sebagai wanita yang tersakiti. Takdirnya berbahagia dengan sang suami hanya khayalan yang tak kunjung menjadi kenyataan. Haruskah ia hidup dengan Hendra dengan segala kegetiran menyaksikan suaminya memiliki buah hati dengan wanita lain? Ataukah melarang Hendra berpoligami dan memusnahkan mimpinya memiliki buah hati?

Hanya Tuhan yang tahu nasib Rima selanjutnya. Kapan kebahagiaan wanita sholehah ini akan menjemput. Kapan Cinta putihnya akan disambut. Hanya menabahan hati yang dapat ia lakukan. Ketabahan hati yang kokoh. Sekokoh Tembok Cina.