MAAF CINTAKU
_yepe
_yepe

Awan gelap menggelayut di angkasa, bergerak rendah seolah
tak mampu menanggung beban uap air yang disangganya. Gelegar petir menyambar-nyambar,
membuat hati menjadi ciut. Seluruh bentuk kehidupan di permukaan bumi berusaha
bersembunyi dan mencari tempat aman.
Langit murka. Hujan bagai dihempaskan ke permukaan bumi.
Angin menari liar tak terkendali. Tak ada seorangpun yang bersedia keluar dalam
cuaca seperti ini.
Di lorong gelap nan sepi, terdengar suara langkah kaki yang
tergesa-gesa.
“Siapa kamu? Apa
maumu? Kenapa kamu selalu mengikutiku?” Teriak Yefier gugup.
“Tenang
saja, aku datang untuk menjemputmu!” Jawab lirih laki-laki berjubah hitam itu.
Lari
lebih cepat dari biasanya. Ya, itulah kalimat yang sedari tadi menghinggap di
ingatan Yefier. Tapi, bahaya lebih cepat darinya.
BRAKKK...
Kring...kring...kring...
Suara jam beker Yefier berguncang keras dan membuyarkan
bunga tidurnya.
“Ahahahahahahahahaha,
mimpi buruk sialan” Teriak lemas Yefier dari mulut memblenya.
Yefier lalu duduk di pojok kamar tidur, sampai badannya
kembali fit untuk melanjutkan aktifitas. Sekitar 10 menit setelah itu dia beranjak
dan melihat kamarnya yang berantakan, lalu merapikannya.
Seperti biasa, Yefier sarapan lalu mandi dan berpakaian rapi
karena hari ini adalah hari pertama pendaftaran masuk SMK. Ya, masuk SMK,
itulah tujuan Yefier dari dulu, karena Ia tau kondisi ekonomi keluarganya yang
serba kecukupan, yang tidak bisa menguliahkannya setelah lulus SMA, dan
bermaksud mendalami hobi konyolnya.
Yefier, laki-laki pendiam tapi cerewet, berwajah pas-pasan,
berkulit coklat, agak tinggi, dan tidak begitu pintar untuk seorang siswa.
Hari pendaftaran akhirnya usai dan berganti hari dimana tes
fisik dimulai, di sinilah ceritanya dimulai. Setelah masuk ruangan dan mencopot
baju atasnya, lalu Ia duduk bersama calon peserta didik baru laki-laki lainnya.Terlihat
sesosok bidadari cantik yangmencuri perhatian Yefier. Diperhatikan terus
bidadari cantik itu, sesekali memandangi suasana sekitar yang agak ramai.
“Ha...ha...ha...ha...” Tawa kecil Yefier saat mendengar dan
melihat tawa kecil bidadari cantik itu saat digoda salah seorang guru pengetes
bagian penyortiran nilai rapor.
Dan setelah Yefier menguping dan mencerna isi percakapan
bidadari cantik itu, Yefier dapat
menyimpulkan kalau dia bukan orang sembarangan di SMK ini. Ya, bidadari cantik
itu adalah keponakan salah satu guru top di SMK tersebut.
“Dia cantik, kelihatannya juga baik, dan mungkin dari
keluarga yang baik pula.” Pikir Yefier dalam hati kecilnya.
Sesekali bidadari cantik itu juga melirik ke arah Yefier,
tapi saking membunuhnya tatapan itu, Yefier hanya tertunduk berusaha menguatkan
hatinya untuk membalas lirikan itu. Setelah terkumpul banyak keberanian, Yefier
kembali menegakkan kepalanya, tapi bidadari cantik itu sudah beranjak dari
kursi yang disediakan panitia. Retaklah perasaan gembira Yefier sesaat setelah
itu.
Angin malam bertiup lembut. Menyelisik sela-sela lubang
jendela. Malam beranjak datang. Rumah Joglo itu akhirnya lengang, setelah tadi
terdengar riuh obrolan-oblrolan tetangga yang berkunjung. Yefier akhirnya bisa
tenang menyandarkan kepalanya ke bantal empuk di kamar yang bisa dibilang luas
itu.
Malam sunyi, dilalui Yefier dengan bayang-bayang wajah dan
senyum manis bidadari cantik yang memaksa Yefier untuk terjaga sepanjang malam.
Dipejamkan kedua mata Yefier dan bermaksud membawa bayang-bayang indah itu ke
bunga tidur istimewa Yefier.
Hari-hari berlalu, dan masa pendaftaran sepertinya sudah
usai jauh hari. Saatnya melihat hasil pengumuman penerimaan peserta didik baru.
Keesokan harinya, dikendarai vega merah melesat menuju SMK
impiannya berharap namanya Yefier Pratama tertulis di papan penentu masa
depannya.
Dilihatnya papan tinggi penuh nama-nama pesaing Yefier.
Diurutkannya dari nomor satu hingga ratusan.
“Nol sembilan nol dua...nol sembilan nol dua...nol sembilan
nol dua...” Ucap Yefier sambil mencari nomor pendaftarannya 0902.
“Gotcha! Alhamdullilah! Yes...yes...yes!” Teriak Yefier
pelan.
Dilihatnya nama-nama pesaingnya, di atas persis nama Yefier
Pratama, tertulis Arsa Zeetha, nama yang cukup asing bagi orang desa seperti
Yefier.
“Wuih, keren banget namanya, pasti pindahan dari kota, dan
pasti bukan anak orang biasa.” Pekik Yefier dalam hati.
*****
Hari ini
adalah hari pertama bagi Yefier untuk memulai kehidupan baru bersama
teman-teman baru di sekolah yang baru pula.
Ngiekkk...
Terdengar derit lembut dari pintu yang sudah termakan zaman
itu saat Yefier ke ruang kelas pertamanya. Dengan sikap dingin karena belum
mengenal satu-sama lain, Yefier lalu duduk di meja ke dua dari belakang.
Hari
itu, keadaan kelas agak riuh karena guru pengampu mata pelajaran tak kunjung
datang. Inilah saat yang tepat bagi Yefier untuk mengamati keadaan sekitar.
“Hmm...sepertinya
aku tahu orang itu, sepertinya aku pernah melihatnya, siapa ya?” Tanya heran
Yefier dalam hati kecilnya sambih mengernyitkan jidatnya.
“Ya...ya...ya...sepertinya
aku tahu, apa jangan-jangan...”
Mata
Yefier seketika terbelak lebar, dahinya mengkerut seakan tak percaya kalau
orang yang dilihatnya adalah bidadari cantik yang dilihatnya beberapa hari
lalu.
“Wow,
apa aku bermimpi?”
Plakkk...
Yefier
sesekali menampar pipinya sendiri, seakan tak percaya apa yang Ia lihat
sekarang, seorang bidadari cantik nan manis.
“Tapi,
Ia berkerudung, apa mungkin dia punya kembaran? Ah, kurasa itu tidak mungkin,
mana mungkin bidadari secantik dia ada yang menduplikat?”
Sekali
lagi Yefier masih belum bisa mempercayai kenyataan yang sudah terpampang jelas
di depan pelupuk matanya.
Ngiekkk...
Sekali lagi pintu tua itu berderit, terlihat samar di balik
pintu, seorang berkerudung putih berperawakan kecil.
“Pagi
anak-anak, perkenalkan nama saya Bu Ernaz, guru BK kalian dan merangkap menjadi
wali kelas kalian selama satu tahun ke depan. Silakan maju ke depan kelas dan
perkenalkan nama kalian masing-masing, dimulai dari presensi pertama, Arza
Zeetha.” Tegas Bu Ernaz kepada anak-anak barunya.
“Nama
saya Arza Zeetha, lahir di Jakarta...”
“Wow, nama
itu, oh, itu kan nama yang tertempel di papan pengumuman penerimaan peserta
didik baru yang letaknya tepat di atas namaku, ow...jadi itu orangnya, nama
yang cocok untuk orang cantik dari kota.” Pikir terselubung Yefier.
Sejak
saat itu, Yefier sering memperhatikan tingkah laku dan perkembangan Zeetha.
Ternyata, dugaan Yefier tentang Zeetha 100% benar bahwa dia adalah perempuan
yang anggun, cantik, baik, manis, pintar, dan mudah bergaul dengan siapapun,
walau dia anak kota dia berbeda 180 derajat dengan anak kota lainnya yang
biasanya sombong, apatis, dan agak jahat.
*****
Hari-hari
biasa dilalui Yefier dengan mulus sampai pada suatu hari, disaat Yefier duduk
di belakang Zeetha, Yefier pun tak bisa berkonsentrasi dengan pelajaran
sehari-hari yang biasanya cepat diserap otaknya. Salah tingkah juga sering
terjadi antara dua remaja tersebut yang menimbulkan perasaan campur aduk bagi
keduanya.
“Cie...cie...ihir...ihir...”
Goda sebagian teman kelas Yefier dan Zeetha.
“Wahhh...cocok
tuh...” Goda yang lainnya.
“Ze,
wajahmu tadi putih bersih kok jadi pink lembut sih? Kenapa” Tanya Yefier lembut
ke Zeetha.
“Ah,
masak sih, ih, jadi malu deh?” Jawab lembut manja dari mulut manisnya sambil
menutup wajah cantiknya dengan telapak tangan halusnya.
“Ahahahahaha,
kamu tambah manis deh kalau begitu, hehe.” Rayuan lembut keluar dari mulut
memble Yefier.
“Ah,
kamu..., gombal tauk.”
“Eh,
beneran kok, kamu tambah manis kalau begitu, hehe.”
“Ah,
udah ah, tambah malu nih. Oiya, boleh minta nomor HP kamu nggak?” Pinta Zeetha
dengan lembutnya.
“Ow,
boleh-boleh, catet ya? 085641 nampak semua, hehe.”
“Ahahahahaha,
ciyuss deh.”
“What? Ciyuss
itu makanan apa?” Sahut Yefier heran.
“Ih,
kamu ih, katrok banget deh, ciyuss itu serius sayang...”
“Oh,
serius, hehe...biasalah aku kan asli orang kampung. Haaaaa...kamu tadi bilang
sayang?” Tanya Yefier kaget.
“Ah,
nggak ah, setan mungkin yang bilang, hehe” Jelas Zeetha.
*****
Dua
remaja itupunsemakin hari semakin lengket saja, bagaikan madu dan lebah. Saling
melengkapi bagaikan bolfoin dan tinta. Saling kompak bagaikan koloni semut yang
bergotong-royong. Saling menyayangi bagaikan induk kucing dan anaknya. Dan
saling berkorkan, bagaikan benalu dan induknya.
Semakin
hari pula, tampak keserasian antara Yefier dengan Zeetha. Semakin hari pula,
lambat laun timbul benih-benih cinta diantara mereka. Sampai suatu saat dengan kepercayaan
dan keberanian yang full, Yefier memberanikan diri untuk menyatakan perasaan
cinta tulusnya kepada Zeetha, sang bidadari idamannya itu.
“Ehm...di
kelas ini, di sekolahan ini, di jam ini, di bulan ini, di tahun ini, dan
disaksikan teman serta sahabat kita,jujur, aku bermaksud menyampaikan perasaan
ku yang sangat dalam dari hati terlembut ku. Jujur, kau telah melelehkan hati
yang selama ini mati suri.I LOVE YOU FULL, WILL YOU BE MINE?” Perkataan lembut
terlontar dari hati Yefier.
“Cuit...cuit...so
sweat mas brooooo...” Celetuk anak laki-laki dari belakang kelas.
“Shhttt...diam
woy, lagi romantis nih, ahahahay...” Celetuk satunya lagi.
“Ihhhh,
bisa diam nggak sih, laki kok cerewet, huuuuuuuuuuuu...” Sorak kubu perempuan.
“Jawab...jawab...jawab...”
Sorak kedua kubu.
“Iya
Yefier, jujur, aku juga sayang kamu. I LOVE YOU TOO...” Jawab Zeetha lembut.
“Horeeeeeeeeeeeeeeeeeeee...Suit-suitttttttt.......”
Sorak gembira terdengar keras sekali. Nampaknya semua teman kelas Yefier dan
Zeetha sangat gembira dengan menyatunya hari mereka berdua.
“Dirayu
dong ceweknya mas broooo...biar tampah lumpuh hatinya.....” Teriak salah satu
teman laki-laki.
“Iya,
Yef, biar afdhol, hahahahahahaha.” Sahut yang lainnya.
“Okok,
mohon tenang sebentar!” Perintah bijaksana Yefier.
“Beib...tau
nggak, senyummu itu seperti kopi.”
“Kok
kayak kopi, kenapa?” Tanya lembut Zeetha.
“Karena
kopi itu manis, seperti senyummu yang manis, dan kopi juga punya rasa pahit,
yang hilangnya lama, sama seperti senyummu yang susah hilang dari benakku.”
Jawab lembut Yefier.
“Ahahahahaha,
jadi malu ah.” Respon Zeetha malu-malu.
“Cie...cie...ahahay....mirissss
mas broooo.....” Teriak anak laki-laki dari belakang kelas.
Angin
surga berhembus lembut, membangunkan desir-desir perasaan aneh. Ya, hari ini
adalah hari terbaik yang pernah ada atau bisa di bilang Is The Best Day Ever bagi Yefier dan Zeetha. Walaupun hanya pacaran
seperti anak muda lainnya, mereka berdua berjanji pada diri mereka sendiri
untuk berpacaran yang sewajarnya, jujur satu sama lain dan berusaha untuk tidak
melewati batas pranata apaapun.
*****
Hari-hari
berjalan seperti biasanya setelah mereka berpacaran, tapi yang membedakan
sebelumnya adalah di manapun mereka pergi, pasti selalu bersama, mulai dari
kejadian romantis, senang, dan susah mereka jalani dengan kebersamaan.
Sesekali
Yefier juga bersms ria dengan Zeetha setelah pulang sekolah. Sampai suatu saat kejadian
yang agak janggal menimpa Yefier.
“Beib,
setelah kamu sms aku tentang tugas PKn tadi, tiba-tiba dari hidung ku keluar
darah hitam kental banget, trus aku keluar dari KBU warnet, aku bayar, lalu aku
keluar dari warnet, setelah di parkiran motor, eh, keluar lagi darah hitam
kentalnya, sesaat setelahnya badan ku rasanya mau jatuh ke bumi, untung ada
tembok, trus aku sandaran sebentar di tembok, setelah agak mendingan,
kukendarai vega melesat menuju rumah joglo sederhana ku.”
“Waduh,
sayang ku nggak kenapa-kenapa kan, coba periksain ke dokter, atau kabarin orang
tua sayang ku dulu.” Respon Zeetha peduli.
“Iya,
beib, tapi orang tuaku sekarang pergi semua, aku sekarang dirumah sendirian.”
“Aduhh...kasian sayang ku, buat tiduran aja ya, biar nggak
pusing.” Jawab Zeetha khawatir.
“Iya
sayang ku, makasih ya perhatiannya.”
“Iya
sayang ku, tidur yang nyenyak ya? Jangan lupa berdoa sebelum tidur!” Tegas
Zeetha.
“Iya
beib, bye....” Jawab Yefier meyakinkan.
*****
Keesokan
harinya di sekolah, tak ada tanda-tanda keberadaan Yefier, Zeetha pun mulai
gelisah dengan keadaan yang tidak seperti biasanya ini.
“Eh,
Jay, tadi lihat Yef ku nggak?” Tanya khawatir Zeetha kepada salah satu teman
Yefier.
“Enggak
tuh, surat izinnya juga tidak ada, biasanya kan selalu barengan sama kamu?”
“Kali ini
enggak Jay, aku juga nggak tau kenapa.”
“Coba
tanya teman Yefier yang lain, so, teman Yefier kan buanyak banget.” Jawab Si
Jay mencoba menenangkan Zeetha.
Setelah
beberapa lama berkeliling halaman sekolah, tidak satupun teman Yefier yang tau
tentang keberadaannya saat ini. Suasana ini pun semakin membuat perasaan Zeetha
semakin campur aduk. Disms pun tak dijawab, ditelfon apalagi.
*****
Seminggu
berlalu, belum juga ada kabar tentang keadaan dan keberadaan Yefier. Pengurus
BK pun ikut gelisah dengan kejadian ini, mereka juga tidak bisa mendapat
informasi tentang Yefier secara gamblang. Secuil informasi yang dapat dipungut
adalah kabar Yefier yang sedang sakit dan sekarang dirawat di rumah sakit, di
luar daerah tempat ia tinggal.
Dengan
secuil informasi yang belum diketahui sumber dan kepastiannya itu, Zeetha
bertekad untuk mencarinya, walaupun harus absen dari sekolah, dan tidak bisa
mengikuti pelajaran seperti biasannya.
Rumah
sakit satu, kerumah sakit dua, sampai ke delapan, belum juga ada pasien yang
bernama Yefier Pratama. Dengan gigih, Zeetha terus mencari dimana pacarnya yang
lucu dan baik hati itu dirawat. Tuhan akhirnya membukaan jalan pintas bagi
ketulusan hati Zeetha. Di rumah sakit ke sepuluhlah pacarnya itu dirawat.
“Malam
Sus?”
“Iya
dek, ada apa?” Tanya suster lugu.
“Saya
mau tanya, apa benar di sini ada pasien yang namanya Yefier Pratama?” Tanya
Zeetha was-was.
“Sebentar
ya dek, saya cari dulu.”
“Oh, iya
dek di sini ada pasien yang namanya Yefier Pratama, dia dirawat seminggu yang
lalu.”
“Oh, terima kasih sus, sekarang dirawat di ruang apa, nomor
berapa?” Tanya Zeetha masih was-was.
“Ruang ICU nomor 13 lantai 2 dek.” Jawab suster ramah.
“Terima kasih, sus.” Respon Zeetha sesaat sebelum melesat
menuju ruangan yang diberi tahu suster tadi.
Sepuluh menit kemudian, setelah mencari-cari, akhirnya
ditemukanlah ruangan ICU nomor 13. Di sana sudah ada kedua orang tua Yefier
yang tertunduk lesu memandangi nasip anak semata wayangnya.
Tok...tok...tok...
Terdengar suara pintu diketuk dari luar.
“Iya, silakan masuk” Ayah Yefier mempersilakan.
“Assalamualaikum, Yefierrrrrrr........” Teriak histeris
Zeetha.
“Maaf, tapi anda siapa?” Tanya heran Ibu Yefier.
“Maaf bu, pak, saya pacar Yefier yang sudah lama mencari
tahu keberadaan dan keadaan Yefier.” Jawab Zeetha lugu.
“Nak Zeetha ya? Syukurlah, Yefier sedari tadi memanggil nama
nak Zeetha terus.” Jawab Ibu Yefier lirih.
“Silakan duduk di kekat Yefier, kami keluar membeli makanan
dulu.” Sahut Ayah Yefier.
“Baik pak, bu, saya akan menjaganya.” Yakin Zeetha.
Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya Yefier mulai sadar
dari tidur panjangnya. Suaranya lemas tak bertenaga, mukanya pucat pasi,
matanya layu.
“Yef...yef...ini aku Zeetha, pacarmu.” Jelas Zeetha kepada
Yefier.
“Maafkan aku Zeet, aku selama ini telah berbohong kepadamu.”
Jawab Yefier lirih dan agak putus-putus.
“Berbohong tentang apa beib?” Tanya Zeetha heran.
“Sebenarnya sejak lama aku telah menderita kanker otak, dan
sekarang adalah yang tingkat akhir, sebenarnya aku sudah mati sejak lama, tapi
aku berterima kasih kepadamu, karena cintamu sudah mengubah dunia ku, cintamu
juga yang sudah melipat gandakan semangat untuk tetap hidup, walau akhirnya
akan jatuh pula.” Jawab Yefier semakin lirih.
“Tapi sayang, kenapa kau tidak mengatakannya dari dulu?”
Pertannyaan Zeetha keluar dibarengi derasnya air mata yang keluar.
“Jujur, aku takut kalau kau berpaling dari ku, dan mencari
tambatan hati yang lebih normal dariku.” Jawab Yefier semakin lirih lagi.
“Aku tidak mungkin melakukan itu, karena kau adalah cinta
pertama dan terakhir ku.” Tegas Zeetha lirih.
“Sekali lagi, maaf cintaku dan terima kasih atas semua
ketulusan cinta yang telah kau berikan kepadaku, yang menyejukkan dan sebening
embun. Selamat tinggal.”
Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiittttttttttttttttttttttttttttttttttttttttt...................................................................
0 Response to "Cerpen Maaf Cintaku"
Posting Komentar