

PASSWORD OF LOVE
Pergi begadang ke menteng raya
Sambil jalan makan banana,
Ini abang yang ganteng punya
Ingin kenalan sama sang nona. :D
Seperti biasa, mentari datang kembali ke haribaan ibu pertiwi.Hangat sinarnya seolah menandakan ini hari di musim semi.Tapi ini Jakarta, Metropolitan yang penuh polusi.Hingar bingar para penduduknya yang sangat busy.
Gue Mario, tinggal di sini sejak lahir hingga saat ini. Saat berseragam putih abu-abu yang gue nikmati. Gue tinggal bareng Nyokap, sedangkan Bokap lagi dinas di Arab. Saat ini gue sadar, gue bukan lagi anak mami. Tapi gue sudah tumbuh dewasa dan butuh kebebasan hidup, termasuk soal mencari cewek ha…ha..ha
“Mario, Mama lihat nilai kamu selalu turun terus, bulan ini tagihan telpon rumah kita membengkak hampir sejuta. Stop, mulai sekarang telpon Mama kunci.”
“Nggak bisa gitu dong, Ma! Nanti gimana Mario komunikasi sama Gadis !??”
“Ntar lagi masuk saja di Universitas Jurusan Komunikasi!” jawabnya sewot.
Bete… bete… bete… Nyokap tuh bawel banget.Gimana coba, kalau gara-gara ini gue diputusin si Gadis?



Sampai suatu pagi, Gadis nyamperin gue.
“Rio, lu sekarang berubah ya! Nggak pernah telepon, kasih kabar kek! Gue bete sama lu, kita putus!”“Ha…. Bukan gitu Dis. Gue….”
Tuh kan kejadian juga hal kayak gini tuh gara-gara Nyokap. Tapi nasi sudah menjadi bubur, dan biar gue nggak sakit hati, bubur itu harus menjadi bubur ayam supaya lezat dan enak disantap. Haha:D
Beneran, sekarang telepon dikunci, mau ke wartel nggak ada duit, jadi sekarang gue memakai telpon koin deh.Bagi gue, hidup tanpa cinta itu hampa.Sehampa jagat raya tanpa udara.Malam ini malam minggu, tapi terasa semu.Mau keluar nggak ada yang dituju. Bila di dalam rumah hanya disuruh minum susu. Iseng-iseng aja gue pergi ke telpon umum.Gue masukin koin gopek-an, terus pencet nomer 007.maunya sih ngobrol bareng James Bond, tapi nggak mungkin dong. Tiba-tiba gue nemuin coretan, call me please, 021-231 5000. Gue telpon, eh connect…
“Halo…”
Asli, suaranya lembut banget bikin gue deg-degan bukan kepalang.
“Eeehh..halo,ini siapa? Dan cari siapa?”
“Gue Rio..Loe siapa?
“Missela, Sori gue nggak ada waktu. Gue mau ke salon, nih..”
Dan teleponnya mati.Gue senang banget.Pucuk di cinta, ulam pun tiba.Tak ada si Gadis, Misela pun jadi.Dari suaranya gue yakin dia cantik bak bidadari.Udah gitu, dia pasti terawat baik.Karena dia cewek yang senang pergi ke salon.



Pagi buta, gue telpon dia lagi.
Rupanya Missela baru bangun tidur dan pastinya belum gosok gigi.Gue pun bertanya.“Boleh tahu rumah kamu, nggak?”
Missela hanya menguap.
“Eeee, boleh..rumahku di jalan nama pahlawan yang membuat konsep dasar negara tanggal 29 Mei 1945. Nomor rumahku singkatan Bank Indonesia.. “Gue tunggu loe.”Missela langsung menutup telepon.Tapi tembakannya begitu mudah.Jalannya pasti Moch Yamin dan BI adalah angka yang jika dipecah 131. Gue kan anak gaul. Gue pun tancap gas menuju rumah itu.
Heran. Tiba di sana, gue lihat belum ada barang-barang apa pun. Masih kelihatan baru mau ditempati. Tak ada satu orang pun, hanya sepucuk surat berwarna merah arah.
“Selamat!Loe sudah menemukan rumah gue. Temuin gue di lambang kota Batavia. Dan ini bekal untuk elu.” Gue nggak ngerti maksud dia menyuruh ketemu di Monas dan ngasih gue duit lima ribu. Tapi gue nggak nyerah.Gue bakal ketemu dia secepatnya.Gue sampai di Monas. Di sana panas dan akhirnya gue memakai gocengan dari Missela untuk beli es nanas. Di gerbang Monas, ada tulisan, Masih mau ketemu gue?Petunjuk berikutnya ada di duit gocengan.”Mampus tuh duit sudah gue pakai.
“Bang, duit gocengan tadi di mana?”
“Saya kasih buat kembalikan bapak tadi.”
Gue kejar bapak tadi diantara kemacetan jalan.
“Bapak, maaf.Kembalian 5.000 perak tadi mana ya?”
“Sudah saya belikan koran..Tuh, dia yang jual.”
Abang koran pun sudah memberikan uang itu entah ke siapa dan kini diriku merasa nestapa.
Gue putus asa, padahal gue ingin ketemu Missela dan mengajaknya ke luar angkasa.Namun impian itu kini sirna.
“Mario, tolong Mama belikan bumbu, duitnya ada di dalam bagasi”. Malas banget gue, tapi kalau nggak dibeliin, pasti ngomel. Memang dasar Nyokap, pas aku kasih duitnya, si mbak bilang..
“Eh, ini duit atau kertas?Banyak banget coretan.”
“Subhanallah, ternyata di duit ada tulisan.
“P7K M 153 LA Taman Kembang di antara polusi, kereta terbang di atas kembang.
Kali ini gue benar-benar nggak tau maksud dia, tapi di sisi lain tekad gue ketemu dia semakin kuat. Gue cari dia ke seluruh taman Jakarta, bahkan naik kereta berkeliling tanpa arah. Sampai gue melintasi stasiun Cikini.Dari atas gue melihat banyak sekali orang berjualan bunga dan gue pikir mungkin ini jawabannya.Tiba-tiba seorang anak kecil menghampiri.
“Kak, ada titipan bunga…”
Gue nggak ngerti maksud tuh anak dengan memberikan setangkai mawar kuning, tapi sekali lagi ada tulisan, “Call Me”.



Gue duduk di kantin sekolah.Tak ada yang menemani di sebelah.Sempat gue mikir, mau datang di rumahnya.Rumah kosong Missela yang tak ada penghuninya.Gue pun nekat datang ke rumah dia. Tapi sampai di sini, gue sudah kehabisan petunjuk.
“Datang tak dijemput, pulang tak diantar.Tanyakan pada rumput bila hatimu bergetar.OB, merdeka, mobile”.
Detik, jam, menit, begitu cepat berlalu.Akhirnya gue dapat tuh password, datang tak dijemput, pulang tak diantar. It’s me! Sialan gue disamain sama jalangkung!
Tanyakan pada rumput yang artinya sia-sia.OB diubah menjadi angka berarti 07. Merdeka 17 Agustus 45, so 0817081945, Call.. Yess! Nyambung, Tiba-tiba ada suara gelap menjawab..“Janganlah kau terperangkap pada lubang yang salah.Miskin ilmu tiada guna, miskin hati tak berarti apa-apa.Temuilah dia di antara sepi hembusan ombak di tengah ramainya Jakarta.Seminar menjadi remaja pintar.”
Aneh! Karena suara itu mirip Bokap.Petunjuknya bagai kakek nasehatin cucunya.
“Mario, kapan kamu belajar tiap hari kerjaannya ngeluyur saja.”
“Tunggu, Ma. Mario sedang memikirkan password menuju kehidupan cinta sejati Mario.”
“Cinta… cinta..nih! Lebih baik kamu datangin undangan dari Tante Jeni.Seminar menjadi pelajar pintar di pantai karnaval Ancol.”
Hah, mungkin itulah kata kuncinya. Segera aku pergi ke acara itu. Tiga jam lamanya aku menunggu, nyaris tak ada petunjuk. Gue terpaksa ikut seminar. Saat pulang, di motor gue ada secarik kertas, bertuliskan “Kasih Ibu sepanjang kain, mengalahkan cinta orang pacaran. Pengen pintar harus belajar, sekolah dulu agar menjadi insan budiman.Ttd Miss Ela.”
Gue dah capek, nyerah, gerah dan jera. Lantas gue mikir, kenalan sama Missel buang-buang waktu.
“Bang, ini benar kan rumahnya Missela?”tanya pada para tetangga.
“Miss?Iya benar, ini rumahnya Ela.”
“Missela, gue tahu loe di dalam, keluar loe..”
Berkali-kali gue teriak, tak ada yang menjawab.Gue pun melompat pagarnya yang tinggi, menjulang bagai istana.Gue marah, karena sebagai cowok, harga diri gue dipermainkan.Tiba-tiba kulihat seseorang yang sangat ku kenali.“Eh, Mario..”
“Hah, Mama.Kenapa ada di sini?”
“Ini rumah baru Papa.”
“Lantas Missel penghuni lamanya di mana?”
“Eja namanya, Mario sayang..!”
“M_i_s_s_ E_l_a”
“Nih, orangnya di depan kamu. Teman-teman Mama arisan kan manggil Mama Miss Ela. Sori, kita kan sudah lama nggak main bareng. Nggak apa dong, Mama ngerjain kamu dikit.
“Hah! Selama ini Missela itu Mama?” Aduh..sebel….sebel.. sebel.. ternyata cewek yang gue cintai adalah Nyokap sendiri.
Alamak!mirip dongeng Sangkuriang dan Dayang Sumbi aja deh!?
Dari pengalaman ini gue banyak belajar, di dunia ini memang sudah seharusnya wanita yang harus kita cintai Nyokap, baru cewek-cewek yang mirip bidadari.Haha :)

0 Response to "Cerpen Password Of Love"
Posting Komentar